Boit's Blog

life is real

Tag: musik

Catatan Kecil dari Akhir Pekan Bersama Senyawa, A Stone A dan Bon Iver

Kamu tau bagian apa yang paling susah kalau mau menulis paska pertunjukan yang bagus? Meredakan euforia. 

Dada masih rasa sesak oleh gembira. Hati masih penuh oleh rasa syukur. Bebunyian masih terngiang di kepala. Bangun pagi tadi rasanya masih seperti mimpi. 

Hari ini, paska pertunjukan semalam, gw ke Jakarta untuk menonton Bon Iver. Berharap kembali memijak bumi mendengar Skinny Love dan Holocene. Menonton band yang dikomentari Mas Rully dengan “Oh, Justin” ketika gw bilang bahwa gw ga bisa ikut ke Jatiwangi karena mau nonton band temennya Mas Rully, ampun mas. 

Bon Iver

Dan setelah gw nonton Bon Iver, mohon maaf, meski pertunjukannya bagus tapi ternyata pesonanya masih kalah oleh pertunjukan kecil yang hangat di Bale Handap Selasar Sunaryo, dengan jumlah penonton sekitar 180 orang yang gw yakin komposisinya 60% saling kenal satu sama lain dan harga tiket hanya 10% dari harga tiket standing festival nonton mas Justin Vernon tapi dengan nilai pengalaman yang 100% bahkan 200% lebih berharga. 

Read More

Suatu Malam di Kanal HQ

Main ke Jatinangor lagi akhirnya, karena diundang oleh Kongsi Meraki di markasnya mereka, Kanal HQ buat ngobrol bareng Musicomerch yang lagi launching webnya mereka.

Surprisingly fun. Selain tempatnya nggak neko-neko karena dibangun oleh kecintaan mereka sama musik dan juga lingkungan, nggak nyangka juga di Jatinangor ada tempat yang begitu hangat dan menyenangkan. Malah jadi ngiri. Haha.

Sebelum ngobrol ada band-band-an, seudah ngobrol juga masih ada band-band-an. Ngobrolnya? Kalo dari gw sih berbagi tentang omu dan tentunya berharap semoga semua maju biar si Omu makin banyak temennya. Semoga ada manfaatnya kehadiran si gw yang disebut teteh indie ama aa vokalis Geliat.

Semoga semua panjang umur!

Mati Sebelum Mati – Brotherwolf Sistermoon

Dua kecapi, gembyung atau rebana, goong tiup, celempung ditambah vokal bukanlah pilihan yang biasa untuk musik folk tapi itu adalah jalan musik yang dipilih dan ditempuh oleh Brotherwolf Sistermoon.

Terbentuk secara insidental karena keinginan untuk kembali membuat percobaan menggali tradisi dalam memainkan musik, Okid yang juga merupakan vokalis Gugat sekaligus pentolan Karinding Attack mengajak Hendra yang juga tergabung dalam Karinding Attack, Alice, Ajeng, Tio, Zalu dan kemudian menyusul Gan-gan. Dua nama terakhir adalah personil band Forgotten.

Lucunya, saat awal terbentuk pada Agustus 2017, mereka langsung didapuk untuk mengisi acara di pembukaan sebuah tempat wisata di Bandung.

“Jangankan album, lagu aja belum ada” seru Alice sambil tertawa.

“Yang bodor (lucu) juga Brotherwolf Sistermoon itu namanya muncul gara-gara saya sedang mendengarkan lagu The Cult. Jadi kita ini grup musik tradisi yang namanya ke-inggris-inggrisan” tambah Alice dengan tawa yang makin lebar.

Cukup tentang nama, cita-cita Brotherwolf Sistermoon adalah mencoba mengingatkan manusia untuk
kembali bersatu dengan semesta. Pun dengan single Mati Sebelum Mati yang berangkat dari kegelisahan melihat manusia yang makin tidak menghargai satu sama lain dan pergeseran gaya hidup yang makin jauh dari nilai luhur warisan budaya.

“Tapi kami tidak ingin menggurui, makanya kami melakukan ini lewat musik agar bisa dengan mudah masuk dan didengar orang. Bersyukur saya berjumpa dengan teman-teman yang satu visi dan juga ingin mengeksplorasi hal yang sama”

“Brotherwolf Sistermoon juga beruntung karena ternyata masing-masing personil dengan alat dan kemampuan masing-masing memang punya akar dalam seni tradisi. Ditambah Gangan yang punya kemampuan notasi musik, meski kita punya keterbatasan nada karena alat musik yang kita pilih, setidaknya nadanya benar.” Tutur Okid.

Menurut rencana, single “Mati Sebelum Mati” akan rilis bersama 5 lagu lain dalam bentuk kaset yang dirilis oleh 100.000 records dan album penuh dalam bentuk CD sebelum akhir tahun ini. (Boit/2018)

Link: Soundcloud

Mati Sebelum Mati

I. Sadarlah kau hai manusia
Kau hidup di alam kepalsuan
Arogansi menyesatkan
Terhanyut dalam keserakahan

II. Jiwa-jiwa tak tentu arah
Terbelenggu musuh yang nyata
Diri angkuh untuk bersujud
Terpuruk melarat dalam sekarat

Reff :
Leburlah badan menjadi nyawa
Leburlah nyawa menjadi rasa
Leburlah rasa menjadi cahaya
Lalu sirna
Tinggalah Hyang Agung abadi

Kembali ke II, Reff 2x

Mati sebelum mati
Matilah sebelum mati 2x

 

Tentang Brotherwolf Sistermoon

Brotherwolf Sistermoon adalah band yang berasal dari kota Bandung dengan personil Hendra Romadon/Herbal (celempung), Uun Ajeng Maulidari/Ajeng (kecapi), Dikky Mochamad Dzulkarnaen/Okid (goong tiup, karinding), Gangan Ginanjar/Gan-gan (kecapi, suling), Satio Wikuntoro/Tio (backing vocal), Rizalu Ramdhan/Zalu (gembyung), Lisna Listriana Riadini/alice (vocal). Terbentuk sejak 2017, mengawinkan musik folk dan tradisi, mereka tidak mau keterbatasan nada alat musik mereka jadi penghalang agar musik mereka bisa diterima dunia. Menurut rencana album penuh mereka akan rilis dalam waktu dekat.

 

Kontak:

Okid 081214905553 | okidgugat@gmail.com |

  1. bwolfsmoon

Review | Seringai, Seperti Api (2018)

Gue sebetulnya gak bisa jernih kalo ngomongin band satu ini. Karena secara personal, selain kedekatan pribadi, mereka adalah salah satu band (dari banyak yang gue kenal) yang tumbuh bareng dan membentuk banyak hal yang gue kerjain di Omu. Gue coba sebisanya untuk objektif, tapi gak janji. 🤞🏻 Album Seringai Seperti Api ini kalau analoginya masakan, dia punya rasa yang pas. Ngga kurang, ngga lebih. Seringai yang jalurnya tetap pada apa yang gue lihat di keseharian mereka. Keras, (ya namanya juga musik metal) sekaligus juga benar-benar tahu caranya menikmati apa yang mereka kerjakan. Curhat dan bisa jadi marah pada banyak hal tapi gak pake bahasa dan cara yang katro. Pujian ini juga boleh dilempar ke penulis liriknya Seringai, sebagai salah seorang penulis lirik berbahasa Indonesia terbaik di skena ini. Selain itu, yang gue suka dari mereka adalah kepercayaan mereka pada proses dan memikirkan banyak detail yang membuat hasil akhir dari apa yang mereka kerjakan bisa diterima banyak orang, terutama penggemarnya (cung!). Mungkin sama dengan kalau ditanya rasa makanan, yang terkadang orang bilang cuma ada dua kategori, enak dan enak banget. Buat gue, album ini masuk kategori enak banget. Btw ini bukan iklan. Album ini juga gak gue dapat dengan gratis. Gue beli di omu dan baru bisa dengerin penuh seharian ini. Gue adalah penggemar yang beruntung karena bisa terlibat distribusi album ini untuk sampai ke tangan sesama penggemar di seluruh penjuru Indonesia. Kudos, Seringai! 🤘🏻 #sepertiapi #serigalamilitia #seringai #jajandiomu P.S. Sebagai adik, gue cuma agak cemas apakah abang-abang ini mampu membawakan satu album ini secara live, mengingat ehm.. umur.. ehm.. jangan lupa vitamin dan olah raga ya bang-abang.. 🤗

A post shared by Iit Boit (@boit3) on

Ma, Anaknya Masuk Koran!

Koran Cetak Pikiran Rakyat, Minggu, 22 April 2018. Wawancara oleh: Windy Pramudya.

Hypnagogic Journey Concert

Pers Rilis

Bermain band dari tahun 2005, Bottlesmoker selalu percaya bahwa musik sesungguhnya adalah energi kegembiraan yang selalu harus dibagikan kepada banyak orang. Mereka selalu memilih untuk membagikan setiap album yang mereka buat dengan gratis.

Begitu juga dengan album ke-4 mereka, Hypnagogic yang pada tahun 2013 dirilis melalui format digital lewat netlabel Dystopiaq Records dari London – Tokyo. Tapi ternyata Bottlesmoker juga punya mimpi untuk mewujudkan kemasan fisik berupa CD setelah selama ini merilis album-album mereka dalam bentuk digital. Keinginan  mereka kemudian dimudahkan oleh masuknya bantuan dari teman baik dan partner sponsor yang juga sepenuhnya mengerti dan memberi kebebasan terhadap apa yang mereka inginkan.

Read More

Seribu Keping

wake up, don’t you hide now. 
sometime this morning someone, takes you on the run. 
breathe up all you can somehow, 
sometime this morning someone will take you run. 
takes you run | off her love letter – melancholic bitch
Beberapa hari yang lalu, saya memperhatikan timeline twitter, ada beberapa teman saya bicara soal keuntungan dari penjualan CD, cara jualan CD, digital, rilisan fisik, cara pembayaran, etc, etc.
Perdebatan yang tidak pernah ada ujungnya.
Sama halnya dengan perdebatan tentang kekalahan penjualan cd fisik dari pembajakan, itu juga sesuatu yang tidak pernah ada ujungnya. Nah, tapi saya tidak akan bicara soal pembajakan, masalahnya, saya sendiri masih rajin download lagu luar dari situs-situs penyedia jasa download ilegal. Sementara untuk rilisan lokal karena ada beberapa distributor yang menitipkan rilisan dari banyak band lokal ke tempat kerja saya, otomatis saya tinggal menyisihkan saja dari uang jajan dan tinggal berjalan beberapa langkah ke rak cd yang ada di tempat saya sendiri.
Berangkat dari pengalaman keseharian, saya hanya bisa tertawa membaca perdebatan tak ada ujungnya itu. Masalahnya, habis waktu dan energi untuk berdebat sementara sebetulnya daripada berdebat diluar dan berkoar-koar, lebih baik ngobrol dengan masing-masing personil band dan siapapun yang dipercaya untuk menjual apapun yang dihasilkan band karena situasi untuk setiap band, setiap produk yang dihasilkan, setiap hal itu bisa berbeda.

Read More

Catatan Kecil dari Sebuah Album Berjudul Gemuruh Musik Pertiwi

Kalau ada yang bilang bahwa menulis itu susahnya pada saat pertama memilih kata untuk memulai maka saya mengalaminya saat ini. Entah sudah berapa kata bahkan paragraf yang saya tulis kemudian saya hapus kembali.
Masalahnya, saya sulit memposisikan diri saya sebagai siapa. Sebagai fans yang tergila-gila pada rilisan baru band idola, saya juga punya tanggung jawab untuk tidak menyeret opini yang membaca tulisan saya sebagai media propaganda untuk meningkatkan penjualan album yang secara tidak kebetulan sampai saat ini baru di jual di tempat saya bekerja, omuniuum.
Sebagai penjual yang harus objektif alias adil berimbang pada setiap rilisan yang masuk ke tempat kerja saya juga sulit karena saya tidak bisa membendung keinginan saya untuk menuliskan bahwa album ini adalah salah satu album yang buat saya masuk kategori bagus dan enak didengar (!!!).
Saya tidak malu mengakui bahwa saya adalah salah satu orang yang telat mendengarkan Komunal. Satu-satunya penanda saya tahu nama Komunal adalah bertahun-tahun yang lalu saya bertemu dengan merchandise mereka di sebuah distro berupa patches dengan design gambar muka personil dan tulisan pasukan perang dari rawa.
Sampai kemudian bertemulah saya dengan orang yang bertanggung jawab atas distribusi merchandise Komunal yang tak lain dan tak bukan adalah vokalis dari band pasukan perang dari rawa ini. Masuklah merchandise mereka ke tempat saya bekerja. Setelah itu tanpa sengaja, saya menonton mereka manggung di sebuah pesta meriah perkawinan teman saya.
Oh, begitu toh gaya mereka manggung, saya suka. Setelah itu menonton mereka manggung sebisa mungkin lalu bertemu dengan fisik dari album Hitam Semesta dan itu terjadi dalam waktu kurang dari empat tahun. Jadi saya tidak mengalami kemarahan album pertama mereka Panorama dan terlambat mengalami gelapnya Hitam Semesta. Saya benar-benar bertemu dengan mereka di masa yang lebih tenang dan menyenangkan, Gemuruh Musik Pertiwi.

 

 

Saya ingat pertama kali saya melihat mereka membawakan single pertama yang juga menjadi track pertama dan didapuk jadi judul album mereka, GMP. Bandung berisik 2011. Disini uang dan politik tak ada artinya. Lirik yang maknanya menggambarkan carut marutnya negara, dibawakan dengan gaya yang nyeleneh dari vokalisnya, suara gitar yang penuh distorsi, yang begitu pertama kali dibawakan langsung membuat yang mendengar hapal dan digumamkan dalam perjalanan pulang.

Untuk membahas GMP dari segi musiknya, kelemahan saya dari dulu adalah saya buta nada. Tidak bisa nyanyi, tidak bisa mengenali nada sumbang, tidak bisa membedakan mana gitar ini mana gitar itu, tidak tahu banyak soal hal-hal teknis bermusik, susah hapal nama personil, banyak kebodohan saya dalam soal itu. Tapi saya suka mendengarkan musik yang menurut kuping saya enak. Begitu menurut kuping bodoh saya musiknya enak, hal yang kedua saya cari adalah lirik lagu. GMP buat saya punya keduanya.

Simak saja lirik dari lagu Rock Petir
ini musik kami/berkumandang liar megah/mewarnai hidup/takkan pernah terbeli/keyakinan ini/bagai cinta yang abadi/membangun pusara/hingga dibawa mati/dalam nada bagaikan besi/simbol perlawanan atas nama seni

atau lirik dari Lagu Berani
walaupun kami kalah kami takkan pernah menyerah/semua takkan terduga/ganas cerita malam penghias layar kaca/kuatkah kau menatapnya?/setan tertawa berpesta pora/kami tak berhenti/kami takkan berhenti/dendangkan lagu ini

dan lagu terakhir di Gemuruh Musik Pertiwi, Ngarbone yang didedikasikan untuk seorang sahabat yan telah “pergi” 
doa mengalir mengenang engkau/beri penghormatan untuk selamanya/dilain masa kita akan bertemu/pendidikan formal hanya pergaulan/semua telah digenggam/ini bukan mimpi jadi kenyataan/istirahat yang tenang

Liriknya sederhana, apa adanya, tapi kuat makna dan gampang diingat. Begitupun musiknya. Rasanya tidak sulit mencerna apa yang ditawarkan Komunal di album GMP ini. Ketika Komunal menegaskan dalam pers rilis mereka bahwa secara lirik GMP menceritakan betapa menyenangkan bermusik dalam sebuah institusi bernama Komunal, hal itu tertangkap dalam album ini. 37 menit 33 detik yang ditawarkan begitu singkat padat dan jelas. Kami main musik yang kami suka, silakan dengarkan.Tidak lebih, tidak kurang.

Itu juga yang tertangkap dari apa yang saya lihat dikerjakan oleh mereka selama ini. Dalam masa kurang dari empat tahun saya berkenalan dengan Komunal, saya bertemu satu persatu dengan anggota keluarga mereka. Sering ngobrol, bercerita, melihat mereka mengatur ini dan itu, melihat cara mereka hidup dan survive untuk melanjutkan keyakinan mereka terhadap sesuatu bernama “musik”.

Dari mereka saya belajar benar-benar melihat bahwa setiap band punya cara sendiri untuk tetap berkumpul dan bekerja. Tidak bisa disama ratakan kondisi dan keadaannya. Di band ini caranya begitu belum tentu berhasil di band lain dan sebaliknya.

Saya jadi salah seorang yang tidak sabar menunggu ketika ada berita mereka akan rilis album. Saya juga jadi orang yang beruntung karena bisa mendengarkan lebih dulu dari yang lain dan mengalami gemuruhnya album ini saat rilis pada tanggal 3 April 2012. Bagaimana tidak gemuruh kalau hari itu tempat saya bekerja diserbu sekitar 200 sms, puluhan email dan entah berapa mention di twitter. Belum lagi yang mampir ke toko untuk membeli.

Sebagai teman, saya bangga. Sebagai pendengar musik, daftarkan nama saya jadi salah satu fans mereka. Sebagai penjual, saya berseri-seri dan berterima kasih. Segan.

*****

* Komunal bisa diikuti di twitter: @komunal atau silakan like page facebooknya: Komunal Indonesia

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén