Boit's Blog

life is real

Tag: limunas

Catatan Kecil dari Akhir Pekan Bersama Senyawa, A Stone A dan Bon Iver

Kamu tau bagian apa yang paling susah kalau mau menulis paska pertunjukan yang bagus? Meredakan euforia. 

Dada masih rasa sesak oleh gembira. Hati masih penuh oleh rasa syukur. Bebunyian masih terngiang di kepala. Bangun pagi tadi rasanya masih seperti mimpi. 

Hari ini, paska pertunjukan semalam, gw ke Jakarta untuk menonton Bon Iver. Berharap kembali memijak bumi mendengar Skinny Love dan Holocene. Menonton band yang dikomentari Mas Rully dengan “Oh, Justin” ketika gw bilang bahwa gw ga bisa ikut ke Jatiwangi karena mau nonton band temennya Mas Rully, ampun mas. 

Bon Iver

Dan setelah gw nonton Bon Iver, mohon maaf, meski pertunjukannya bagus tapi ternyata pesonanya masih kalah oleh pertunjukan kecil yang hangat di Bale Handap Selasar Sunaryo, dengan jumlah penonton sekitar 180 orang yang gw yakin komposisinya 60% saling kenal satu sama lain dan harga tiket hanya 10% dari harga tiket standing festival nonton mas Justin Vernon tapi dengan nilai pengalaman yang 100% bahkan 200% lebih berharga. 

Read More

Catatan Kecil dari #LimunasXV

IFI Bandung, 1 Desember 2019

Foto Dok. Pribadi

Episode 1: The Panturas

Foto oleh: Irfan Nasution @visualbanal

Saya tersenyum kecil melihat The Panturas di panggung. Para penonton terutama di barisan depan sibuk merespon pertunjukan dengan asyik moshing dan bergantian mengangkat temannya untuk melakukan crowd surfing. Sisanya dibarisan belakang tampak menikmati pertunjukan. Teman-teman yang berjaga di FOH sibuk menjalankan tugasnya. Diluar auditorium, orang berlalu lalang. Ada yang baru datang, ada yang menukar tiket, membeli merchandise atau sibuk berbincang dengan kawan-kawannya. Beberapa, ada juga yang menolak masuk karena menunggu giliran band yang mereka suka.

Foto Dok. Pribadi

Merasa puas setelah melihat The Panturas dan para ABK bercengkerama, saya melangkahkan kaki keluar auditorium. Menyapa teman-teman yang datang, memastikan pasokan makanan dan minuman di backstage, lalu nongkrong didepan area auditorium. Tidak lama, teman baik saya yang baru datang menyapa. Saya sapa balik lalu bertanya, “kamu mau nonton gratis atau mau beli tiket?” Dia langsung menjawab, “beli tiket dong”. Saya mengajak mereka ke meja tiket untuk bertransaksi lalu kembali bercanda tawa dengan teman-teman lain.

Tak lama, The Panturas sudah menyelesaikan set panggung mereka. Salah satu kawan yang melangkah keluar auditorium menyempatkan diri untuk berkomentar, “gue baru pertama nih nonton Panturas. Asyik juga ya mereka.” Saya mengiyakan lalu pamit untuk ke backstage untuk mengucapkan terima kasih pada The Panturas. Semua tersenyum lebar. Kuya, drummer Panturas sempat bilang, “seneng teh, produksinya bagus pisan. Suka lighting sama soundnya. Enak banget main.”

Dalam hati, saya membatin, selamat datang ke Limunas. 🙂

Read More

Bersama-sama Kita Menuju Semesta

Tugas saya di Limunas adalah menulis pengantar dan mengelola sosial media Limunas tulisan ini saya buat ketika Limunas mengundang Melancholic Bitch dan Teman Sebangku menjadi pengisi acara Limunas IV pada bulan Mei 2013.

Pers Rilis

Bersama-sama Kita Menuju Semesta

Nama konser menuju semesta dipilih karena tema perjalanan cukup menjadi bagian penting dari tema musik Melancholic Bitch, baik itu di album perdana mereka, Anamnesis (yang sekarang dirilis ulang sebagai Re-Anamnesis) maupun “album cinta pesisir” Balada Joni dan Susi.

Terakhir tampil di Bandung pada tahun 2000, itupun hanya muncul sebagai pengiring performance art salah satu penampil di pasar seni ITB, tampaknya sudah saatnya mereka diculik untuk mempunyai panggung sendiri di Bandung.

Mengapa perlu menunggu selama lebih dari tiga belas tahun untuk tampil di Bandung? Pertanyaan itu terjawab jika tahu keseharian dari para personil Melancholic Bitch. Sudah sejak lama band ini dikenal dengan kesibukan masing-masing personilnya. Ugoran Prasad, vokalisnya, sibuk bolak balik menimba ilmu ke luar negeri selain tentunya bekerja sebagai pengarang, peneliti pertunjukan dan belakangan juga menjadi direktur program Teater Garasi. Yosef Herman Susilo, sang gitaris, sibuk menjadi bapak dari dua anak dan menjual kemampuan merancang sound untuk banyak pertunjukan seni di Jogja. Yennu Ariendra, selain sebagai gitaris dan penanggung jawab departemen synth pada Melancholic Bitch, juga punya kesibukan utama sebagai komposer dan music director berbagai karya teater, selain juga bermusik bersama Belkastrelka. Richardus Ardita yang bertanggung jawab di departemen Bas juga punya band bernama Shoolinen selain Individual Life, di tengah kesibukannya sebagai web-designer. Septian Dwirima, dikabarkan sedang hiatus dengan musik untuk berkonsentrasi untuk perjalanan spiritualnya. Kabar hiatus ini juga terdengar dari Wiryo Pierna Haris, sebab gitaris ini sedang berada di negeri Paman Sam untuk waktu yang cukup lama. Peta kesibukan personil Melancholic Bitch memang terdengar begitu riuh; tapi ini bukan alasan yang mencegah kita untuk menculik mereka.

Read More

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén