Boit's Blog

life is real

Page 4 of 5

Deugalih Merilis Album Solo Tanah Ini Tidak Dijual

Galih datang di bulan Desember 2016, langsung dengan permintaan untuk kami membantu dia merilis album Tanahku Tidak Dijual. Album ini rilis pada RSD, April 2017.

Pers Rilis

Deugalih Merilis Album Solo Tanah Ini Tidak Dijual

Berjumpa dengan Galih, artinya bertemu dengan energi yang meloncat-loncat. Sebentar dia akan bicara soal rencananya tentang album, lalu berpindah obrolan tentang keinginannya membuat video, pindah cerita lagi soal tema apa yang ingin dia angkat kali ini. Rencananya banyak, semua bermuara pada satu hal, album solo baru yang sedang ia garap, Tanah Ini Tidak Dijual.

Mengangkat tema Tanah, yang merupakan kelanjutan dari tema Air yang ia tuangkan bersama bandnya, Deugalih & Folk dalam album Anak Sungai, kali ini Galih ingin berjalan sendiri dengan nama Deugalih. Proses pembuatan albumnya sudah berjalan selama dua tahun sebelum akhirnya ia merangkum semuanya dalam 14 lagu, direkam dengan cara satu kali take di studio yang menghabiskan waktu hanya dua hari.

“Album ini temanya berat sekali tapi saya ingin membuat ini menjadi sesuatu yang remeh.” begitu katanya. Semua liriknya pendek tapi didalamnya ada begitu banyak cerita dan harapan. Tentang pulang ke kampung halaman, tentang tanah yang selalu menjadi perebutan kekuasaan, modal yang berputar di kota, TKI, Papua, Kendeng, Batang dan banyak lainnya, ada di album ini.

Read More

Perempuan Dibalik Toko Buku, Musik dan Merchandise, Omuniuum.

Wawancara oleh Anto Arief  – Pop Hari ini

Perempuan Dibalik Toko Buku, Musik dan Merchandise, Omuniuum.

Berdiri di Bandung dari tahun 2007. Awalnya Omuniuum hanya menjual buku hingga lama-kelamaan menjual segala sesuatu yang berhubungan dengan musik seperti  CD, kaos, vinyl dan pernak perniknya. Omuniuum kemudian juga merambah menjadi bisnis online dan menjadi salah satu toko buku dan titik distribusi terbesar musik independen lokal dengan jangkauan distribusi paling luas hingga ke pelosok Indonesia bahkan luar negeri. Dibalik Omunium ada sosok pecinta buku dan musik terutama musik metal, Boit. Perempuan yang mendirikan Omuniuum 10 tahun yang lalu ini kemudian menjalankan bisnis ini bersama dengan suaminya di sela-sela mengasuh dua orang putrinya. Simak obrolan Pop Hari Ini dengan Boit dan silahkan kunjungi website Omuniuum di sini

 

Read More

Yu Me No Machine

Tulisan ini dibuat atas permintaan Evan dan Attina ketika mereka hendak berpameran. Rencananya mau dimuat di zine pengantar pameran. Tapi tampaknya zinenya tak jadi.

Yu Me No Machine
sebuah pengantar personal untuk kisah #robotmenikah

Dari awal bertemu Evan dan Attina, saya sudah yakin kalau satu saat mereka akan menikah, tapi kapan, di mana dan bagaimana mereka menikah, baru terjawab tanggal 16 Januari yang lalu. Lengkap dengan segala pernak-pernik yang disukai oleh mereka berdua, dengan suasana yang dibangun sedemikian rupa, sesuai dengan apa yang mereka cita-citakan berdua.

2007. Ketemu Evan dan Attina di Djamoe cap IKIP 3. Gara-gara naksir barang-barang Recycle Experience. Minta mereka buat titip barang di Omu. Dari situ saya kemudian tahu bahwa mereka punya dua label. Mannequin Plastique untuk aksesoris dan pernak-perniknya lalu Recycle Experience untuk proyek seni daur ulang barang-barang “lost and found” untuk menjadi toys art.

2008. Banyak ikut acara buat buka lapak termasuk Kickfest Gasibu. Yang paling memorable waktu ikut pameran di Unpar, pada saat penutupan pameran, karya Evan dan Attina rusak tidak karuan karena dipindahkan secara terburu-buru. Ketua panitia pameran yang sekarang menjadi biduan lelaki terkenal sempat diomeli panjang pendek oleh kami (saya, evan, attina dan mas trie).

Read More

SOUNDQUARIUM | Kisah Joni dan Susi di Album Melancholic Bitch – Omuniuum

The Future Folk Interview: Omuniuum

Oleh: Felix Dass

Di Sudirman Central Business District, Jakarta Selatan, saya bertemu Iit Sukmiati dan Stafianto Trie Juniantoro, dua orang pemilik Omuniuum. Turut bergabung dalam perbincangan, berbagi meja dan dipaksa diam, Adi Adriandi, teman baik kami yang kebetulan memang sedang berada di Jakarta. Iit, dijadwalkan menjadi pembicara di At America, pusat kebudayaan yang masuknya super ribet di salah satu gedung pusat perbelanjaan di kawasan itu. Jakarta sudah sore. Sebelum mewawancarai mereka, perlu waktu lama untuk menyakinkan. “Emang apa lagi sih yang mau elo tahu dari gue?” tanya Iit. Pertanyaan sok iye yang standar tapi sebenarnya retoris.

Kami sering berbicara bisnis. Duo Iit dan Trie punya sumbangsih yang luar biasa pada perkembangan industri musik independen. Mereka adalah retailer yang membantu banyak orang mendistribusikan karya langsung kepada penggemar. Dan kisah mereka, terlampau sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Selamat membaca. Kalau ingin tahu lebih jauh, silakan langsung datang ke toko mereka di Jalan Ciumbuleuit, Bandung. Mereka biasanya ada di toko mulai pukul empat sore. Oh, dan for the record, tidak mudah membuat Trie berbicara panjang lebar tentang bisnisnya. Rasanya, lebih mudah mengobrol tentang perkembangan industri pornografi atau pengunduhan ilegal.

Tahun 2016 ini Omuniuum sudah berapa sih usianya?

Boit (B): Di Ciumbuleuit berarti tahun ke sembilan.

Tahun ke sembilan, sudah berdikari? Elo mulai merasakan kesuksesan finansial tuh di tahun ke berapa?

B: Kesuksesan finansial, turn overnya sih kalau buat gue 2012.

 

Itu berarti empat tahun yang lalu?

B: Iya. Jadi 2012 itu ketika awalnya Komunal pas nitip CD Gemuruh Rock Pertiwi yang pengennya cuma di Omuniuum doang. Meskipun sebetulnya kita yang, “Bener nih?” Tapi band-nya yang mau, kitanya yang malah, “Eh beneran nih serius?”Begitu beneran dijalanin terus kayak kaget sendiri sama hasilnya.

Nah itu berapa sih? Empat ratus? Eh berapa ratus copy sih?

B: Berapa? Berapa ya mas? Lima ratus, ya? Lima ratus dalam sebulan. Bikinnya mah seribu.

Tapi akhirnya semua abis juga kan? Semuanya lewat Omuniuum?

B: Enggak semuanya. Sebulan pertama cuma di Omuniuum aja. ​

Trie (T): Iya. Karena dia blablabla ke Pekanbaru yang sama ke tokonya temen atau apa gitu kan. Jadi suka ngirim sepuluh atau dua puluh gitu. Sisanya mah terserah.

Read More

Hypnagogic Journey Concert

Pers Rilis

Bermain band dari tahun 2005, Bottlesmoker selalu percaya bahwa musik sesungguhnya adalah energi kegembiraan yang selalu harus dibagikan kepada banyak orang. Mereka selalu memilih untuk membagikan setiap album yang mereka buat dengan gratis.

Begitu juga dengan album ke-4 mereka, Hypnagogic yang pada tahun 2013 dirilis melalui format digital lewat netlabel Dystopiaq Records dari London – Tokyo. Tapi ternyata Bottlesmoker juga punya mimpi untuk mewujudkan kemasan fisik berupa CD setelah selama ini merilis album-album mereka dalam bentuk digital. Keinginan  mereka kemudian dimudahkan oleh masuknya bantuan dari teman baik dan partner sponsor yang juga sepenuhnya mengerti dan memberi kebebasan terhadap apa yang mereka inginkan.

Read More

Untuk Murakami

Saya sangat menyukai tulisan Haruki Murakami dan kagum terhadap hal-hal yang dia tuliskan dengan bahasa yang mudah tapi detil dan deskriptif. Dari kemarin saya ingin menulis sebuah cerita pendek, semacam bahwa saya sudah membuat penghargaan atas karyanya dia. Mengikuti tradisi Murakami yang selalu memasukan lagu yang dia dengar, saya juga memasukan lagu dari penyanyi kesukaan saya, Manic Street Preachers.

Jam Sepuluh Malam

Saat itu pukul 21.41. Riana masih duduk dibelakang meja kasir. Sambil membereskan buku-buku dihadapannya, dia bersenandung pelan, “a design for a life..” itu adalah lagu kesukaan majikannya tapi karena lagu itu masuk ke dalam playlist yang selalu diputar di toko tempat dia bekerja, akhirnya dia juga menyukai lagu itu.

15 menit lagi tokonya tutup, dia mulai membereskan meja kerjanya ketika tiba-tiba dia mendengar langkah kaki di tangga. Riana mengeluh pelan, masih ada pelanggan yang datang berarti kemungkinan besar dia akan pulang terlambat. Sudah menjadi kebijakan di sana, meskipun pelanggan datang sepuluh menit sebelum toko tutup,dia harus menunggu pelanggan sampai selesai bertransaksi. Kalau pelanggannya jadi membeli, dia cukup senang, tapi kadang ada saja orang yang datang pada jam selarut itu lalu memutuskan untuk tidak membeli apa-apa.

Seorang pemuda bertubuh kurus, berkacamata masuk dan menghampiri salah satu rak buku tidak jauh dari meja tempat Riana. Sekilas dia melirik pemuda itu, memakai flanel, jeans biru dan sepatu keds, tak ada yang istimewa. Pemuda itu melihat-lihat rak sebentar sebelum akhirnya memilih buku haruki murakami, after dark.

Riana berusaha tidak berteriak untuk mencegah pemuda itu mengambil buku itu, masalahnya, dia sangat menginginkannya tapi dia belum gajian dan dia lupa menaruhnya di tempat yang tersembunyi. Dia berharap semoga pemuda itu tak jadi membelinya. Pemuda itu lalu duduk di sofa yang memang sengaja disediakan untuk orang yang mau membaca.

Riana berusaha memperlihatkan gestur bahwa dia sibuk beres-beres karena hendak menutup toko. keningnya berkerut melihat jam. 21.55, harusnya toko tutup 5 menit lagi.

“mbak, lagunya boleh diulang? yang sebelum ini, Rewind The Film itu dari manic street yang baru kan?” tiba-tiba pemuda itu berbicara pada Riana.

“Bisa mas, eh tapi sekali aja ya, tokonya udah mau tutup, udah hampir jam sepuluh”.

Pemuda itu hanya mengangguk lalu melanjutkan membaca buku yang dia pegang.

21.59 dan si pemuda tak ada tanda-tanda untuk beranjak. Riana menunggu dengan gelisah.

Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Layarnya menampilkan nama Indra. Riana kembali menarik nafas dan mengangkat teleponnya.

“Halo Ndra,” katanya.
“Ri, dimana? gue udah nungguin nih di tempat biasa, udah tutup kan? udah selesai beres-beres?” kata suara diseberang sana.
Riana dengan suara pelan membalas perkataan Indra “belum dra, ini masih ada pelanggan di toko, duh, tungguin ya, kayaknya masih agak lama”

Pemuda si pembaca buku diam-diam melirik Riana dan tersenyum kecil. Pemuda itu melirik jam ditangannya, 22.07. Dia masih menunggu temannya datang tapi lupa kalau toko kecil itu tutup jam sepuluh dan temannya belum menampakkan batang hidungnya. Dengan cuek, dia meneruskan kembali membaca.

Riana masih berbicara beberapa detik sebelum menutup telepon. dia melihat jam, 22.09. Dia meraih kunci gudang lalu berjalan menuju gudang di ruang belakang dan menutup pintu gudang lalu menguncinya. Dia kemudian kembali duduk di belakang meja kasir.

Tak lama terdengar langkah kaki di tangga. Riana menggaruk kepalanya karena bingung, kenapa masih ada lagi orang yang datang pada jam ini. Seorang perempuan manis, memakai kemeja putih, celana pendek, legging dan boots masuk dan melihat sekeliling toko lalu berjalan menghampiri pemuda yang duduk di sofa.

“Hey, gila! Udah lama?” katanya sambil duduk di sebelah si pemuda.
“ya lama, nungguin lu datang.” balas si pemuda.
“waaah, murakami, buat gue dong” kata si perempuan lagi.
“ngga’ mau, gue mau beli. bentar gue bayar” kata si pemuda sambil berdiri dan menghampiri meja Riana.

“Ini mbak, uangnya. maaf, bikin lama nunggu.” kata si Pemuda sambil memberikan uang sesuai dengan label harga yang tertera di halaman belakang buku.
“Iya mas, uang pas ya? makasih, eh tapi di bon dulu mas sebentar ya,” kata Riana.

Sambil menahan rasa kesal karena buku yang dia inginkan diambil oleh orang lain, Riana menuliskan harga, memasukkan buku ke dalam kantung plastik dan memberikannya pada si pemuda.

“Makasih ya mbak,” kata si pemuda sambil memberikan isyarat pada teman perempuannya untuk keluar dari ruangan tersebut.

Mereka lalu berjalan beriringan dan pelan-pelan Riana mendengar suara tawa dan suara langkah mereka menghilang.

Riana menghela nafas lalu membereskan beberapa barangnya untuk dimasukkan ke dalam tas. Mematikan komputer, mematikan lampu, menutup pintu dan mengunci pintu toko. Lalu dia menaruh kuncinya di tempat biasa untuk besok yang berjaga pagi membuka toko. Dia mematikan ruang belakang lalu berjalan menuju tangga. Sambil berjalan, dia menulis pesan pendek dihapenya.

“otw ndra, baru tutup, pelanggannya baru pulang”.

Dia mematikan lampu dibawah tangga. Sebelum mematikan lampu dan keadaan menjadi gelap gulita, dia sempat melihat jamnya, 22.24.

Riana lalu melangkah keluar ruko dan menutup gerbang kemudian menguncinya.

Sambil berjalan pelan dia bersenandung kembali, a design for life..

– fin –

Seribu Keping

wake up, don’t you hide now. 
sometime this morning someone, takes you on the run. 
breathe up all you can somehow, 
sometime this morning someone will take you run. 
takes you run | off her love letter – melancholic bitch
Beberapa hari yang lalu, saya memperhatikan timeline twitter, ada beberapa teman saya bicara soal keuntungan dari penjualan CD, cara jualan CD, digital, rilisan fisik, cara pembayaran, etc, etc.
Perdebatan yang tidak pernah ada ujungnya.
Sama halnya dengan perdebatan tentang kekalahan penjualan cd fisik dari pembajakan, itu juga sesuatu yang tidak pernah ada ujungnya. Nah, tapi saya tidak akan bicara soal pembajakan, masalahnya, saya sendiri masih rajin download lagu luar dari situs-situs penyedia jasa download ilegal. Sementara untuk rilisan lokal karena ada beberapa distributor yang menitipkan rilisan dari banyak band lokal ke tempat kerja saya, otomatis saya tinggal menyisihkan saja dari uang jajan dan tinggal berjalan beberapa langkah ke rak cd yang ada di tempat saya sendiri.
Berangkat dari pengalaman keseharian, saya hanya bisa tertawa membaca perdebatan tak ada ujungnya itu. Masalahnya, habis waktu dan energi untuk berdebat sementara sebetulnya daripada berdebat diluar dan berkoar-koar, lebih baik ngobrol dengan masing-masing personil band dan siapapun yang dipercaya untuk menjual apapun yang dihasilkan band karena situasi untuk setiap band, setiap produk yang dihasilkan, setiap hal itu bisa berbeda.

Read More

Catatan Kecil dari Sebuah Album Berjudul Gemuruh Musik Pertiwi

Kalau ada yang bilang bahwa menulis itu susahnya pada saat pertama memilih kata untuk memulai maka saya mengalaminya saat ini. Entah sudah berapa kata bahkan paragraf yang saya tulis kemudian saya hapus kembali.
Masalahnya, saya sulit memposisikan diri saya sebagai siapa. Sebagai fans yang tergila-gila pada rilisan baru band idola, saya juga punya tanggung jawab untuk tidak menyeret opini yang membaca tulisan saya sebagai media propaganda untuk meningkatkan penjualan album yang secara tidak kebetulan sampai saat ini baru di jual di tempat saya bekerja, omuniuum.
Sebagai penjual yang harus objektif alias adil berimbang pada setiap rilisan yang masuk ke tempat kerja saya juga sulit karena saya tidak bisa membendung keinginan saya untuk menuliskan bahwa album ini adalah salah satu album yang buat saya masuk kategori bagus dan enak didengar (!!!).
Saya tidak malu mengakui bahwa saya adalah salah satu orang yang telat mendengarkan Komunal. Satu-satunya penanda saya tahu nama Komunal adalah bertahun-tahun yang lalu saya bertemu dengan merchandise mereka di sebuah distro berupa patches dengan design gambar muka personil dan tulisan pasukan perang dari rawa.
Sampai kemudian bertemulah saya dengan orang yang bertanggung jawab atas distribusi merchandise Komunal yang tak lain dan tak bukan adalah vokalis dari band pasukan perang dari rawa ini. Masuklah merchandise mereka ke tempat saya bekerja. Setelah itu tanpa sengaja, saya menonton mereka manggung di sebuah pesta meriah perkawinan teman saya.
Oh, begitu toh gaya mereka manggung, saya suka. Setelah itu menonton mereka manggung sebisa mungkin lalu bertemu dengan fisik dari album Hitam Semesta dan itu terjadi dalam waktu kurang dari empat tahun. Jadi saya tidak mengalami kemarahan album pertama mereka Panorama dan terlambat mengalami gelapnya Hitam Semesta. Saya benar-benar bertemu dengan mereka di masa yang lebih tenang dan menyenangkan, Gemuruh Musik Pertiwi.

 

 

Saya ingat pertama kali saya melihat mereka membawakan single pertama yang juga menjadi track pertama dan didapuk jadi judul album mereka, GMP. Bandung berisik 2011. Disini uang dan politik tak ada artinya. Lirik yang maknanya menggambarkan carut marutnya negara, dibawakan dengan gaya yang nyeleneh dari vokalisnya, suara gitar yang penuh distorsi, yang begitu pertama kali dibawakan langsung membuat yang mendengar hapal dan digumamkan dalam perjalanan pulang.

Untuk membahas GMP dari segi musiknya, kelemahan saya dari dulu adalah saya buta nada. Tidak bisa nyanyi, tidak bisa mengenali nada sumbang, tidak bisa membedakan mana gitar ini mana gitar itu, tidak tahu banyak soal hal-hal teknis bermusik, susah hapal nama personil, banyak kebodohan saya dalam soal itu. Tapi saya suka mendengarkan musik yang menurut kuping saya enak. Begitu menurut kuping bodoh saya musiknya enak, hal yang kedua saya cari adalah lirik lagu. GMP buat saya punya keduanya.

Simak saja lirik dari lagu Rock Petir
ini musik kami/berkumandang liar megah/mewarnai hidup/takkan pernah terbeli/keyakinan ini/bagai cinta yang abadi/membangun pusara/hingga dibawa mati/dalam nada bagaikan besi/simbol perlawanan atas nama seni

atau lirik dari Lagu Berani
walaupun kami kalah kami takkan pernah menyerah/semua takkan terduga/ganas cerita malam penghias layar kaca/kuatkah kau menatapnya?/setan tertawa berpesta pora/kami tak berhenti/kami takkan berhenti/dendangkan lagu ini

dan lagu terakhir di Gemuruh Musik Pertiwi, Ngarbone yang didedikasikan untuk seorang sahabat yan telah “pergi” 
doa mengalir mengenang engkau/beri penghormatan untuk selamanya/dilain masa kita akan bertemu/pendidikan formal hanya pergaulan/semua telah digenggam/ini bukan mimpi jadi kenyataan/istirahat yang tenang

Liriknya sederhana, apa adanya, tapi kuat makna dan gampang diingat. Begitupun musiknya. Rasanya tidak sulit mencerna apa yang ditawarkan Komunal di album GMP ini. Ketika Komunal menegaskan dalam pers rilis mereka bahwa secara lirik GMP menceritakan betapa menyenangkan bermusik dalam sebuah institusi bernama Komunal, hal itu tertangkap dalam album ini. 37 menit 33 detik yang ditawarkan begitu singkat padat dan jelas. Kami main musik yang kami suka, silakan dengarkan.Tidak lebih, tidak kurang.

Itu juga yang tertangkap dari apa yang saya lihat dikerjakan oleh mereka selama ini. Dalam masa kurang dari empat tahun saya berkenalan dengan Komunal, saya bertemu satu persatu dengan anggota keluarga mereka. Sering ngobrol, bercerita, melihat mereka mengatur ini dan itu, melihat cara mereka hidup dan survive untuk melanjutkan keyakinan mereka terhadap sesuatu bernama “musik”.

Dari mereka saya belajar benar-benar melihat bahwa setiap band punya cara sendiri untuk tetap berkumpul dan bekerja. Tidak bisa disama ratakan kondisi dan keadaannya. Di band ini caranya begitu belum tentu berhasil di band lain dan sebaliknya.

Saya jadi salah seorang yang tidak sabar menunggu ketika ada berita mereka akan rilis album. Saya juga jadi orang yang beruntung karena bisa mendengarkan lebih dulu dari yang lain dan mengalami gemuruhnya album ini saat rilis pada tanggal 3 April 2012. Bagaimana tidak gemuruh kalau hari itu tempat saya bekerja diserbu sekitar 200 sms, puluhan email dan entah berapa mention di twitter. Belum lagi yang mampir ke toko untuk membeli.

Sebagai teman, saya bangga. Sebagai pendengar musik, daftarkan nama saya jadi salah satu fans mereka. Sebagai penjual, saya berseri-seri dan berterima kasih. Segan.

*****

* Komunal bisa diikuti di twitter: @komunal atau silakan like page facebooknya: Komunal Indonesia

Tentang HIV Positif

Siang hari ini, di sela-sela rutinitas harian membaca linimasa di twitter, saya dikejutkan oleh linimasa @fajarjasmin yang bercerita tentang anaknya yang tiba-tiba tidak bisa masuk SD karena dia, ayahnya adalah seorang pengidap HIV. Padahal sebelumnya anaknya sudah di terima di SD tersebut. Tadinya, dengan niat baik, mereka memberitahu pihak sekolah kalau ayahnya punya penyakit HIV untuk mencegah anak-anak lain mem-bully atau mencelanya. Niat baiknya berakhir buruk. Penerimaannya di cabut. 🙁

Saya jadi ingat almarhum teman laki-laki saya, dulu sekitar tahun 2007-2008 dia sempat bekerja di Omuniuum juga. Tak ada yang luar biasa dari dia kecuali piercing dan tatonya yang memang banyak. Anaknya riang. Penuh semangat. Tak ada yang aneh. Setelah beberapa waktu, tiba-tiba dia mengajak saya dan #3 partner saya ngobrol serius.

Read More

Page 4 of 5

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén