Boit's Blog

life is real

Category: Musik

Bersama-sama Kita Menuju Semesta

Tugas saya di Limunas adalah menulis pengantar dan mengelola sosial media Limunas tulisan ini saya buat ketika Limunas mengundang Melancholic Bitch dan Teman Sebangku menjadi pengisi acara Limunas IV pada bulan Mei 2013.

Pers Rilis

Bersama-sama Kita Menuju Semesta

Nama konser menuju semesta dipilih karena tema perjalanan cukup menjadi bagian penting dari tema musik Melancholic Bitch, baik itu di album perdana mereka, Anamnesis (yang sekarang dirilis ulang sebagai Re-Anamnesis) maupun “album cinta pesisir” Balada Joni dan Susi.

Terakhir tampil di Bandung pada tahun 2000, itupun hanya muncul sebagai pengiring performance art salah satu penampil di pasar seni ITB, tampaknya sudah saatnya mereka diculik untuk mempunyai panggung sendiri di Bandung.

Mengapa perlu menunggu selama lebih dari tiga belas tahun untuk tampil di Bandung? Pertanyaan itu terjawab jika tahu keseharian dari para personil Melancholic Bitch. Sudah sejak lama band ini dikenal dengan kesibukan masing-masing personilnya. Ugoran Prasad, vokalisnya, sibuk bolak balik menimba ilmu ke luar negeri selain tentunya bekerja sebagai pengarang, peneliti pertunjukan dan belakangan juga menjadi direktur program Teater Garasi. Yosef Herman Susilo, sang gitaris, sibuk menjadi bapak dari dua anak dan menjual kemampuan merancang sound untuk banyak pertunjukan seni di Jogja. Yennu Ariendra, selain sebagai gitaris dan penanggung jawab departemen synth pada Melancholic Bitch, juga punya kesibukan utama sebagai komposer dan music director berbagai karya teater, selain juga bermusik bersama Belkastrelka. Richardus Ardita yang bertanggung jawab di departemen Bas juga punya band bernama Shoolinen selain Individual Life, di tengah kesibukannya sebagai web-designer. Septian Dwirima, dikabarkan sedang hiatus dengan musik untuk berkonsentrasi untuk perjalanan spiritualnya. Kabar hiatus ini juga terdengar dari Wiryo Pierna Haris, sebab gitaris ini sedang berada di negeri Paman Sam untuk waktu yang cukup lama. Peta kesibukan personil Melancholic Bitch memang terdengar begitu riuh; tapi ini bukan alasan yang mencegah kita untuk menculik mereka.

Read More

Kompilasi Darah Muda: Cahaya S

Tulisan ini dibuat untuk kompilasi Darah Muda yang dirilis oleh Keepkeep Musik untuk perayaan #rsdbdg2018.

Rilis Pers
Kompilasi Darah Muda: Cahaya S

Tersebutlah nama-nama seperti Prambors Bram, Denok Wahyudi, Katara Singers, Wachdach Band, Duo Kribo dan Nani Sugianto. Bagi yang familiar dengan nama-nama tersebut di atas kemungkinan besar adalah satu, yang sudah berumur cukup dewasa kalau tidak mau dibilang tua. Dua, yang punya ketertarikan pada musik Indonesia pada kurun waktu awal 80-an atau karena orang tuanya sering mengenalkan koleksi musiknya.

Cahaya S dan Keepkeep Musik termasuk golongan kedua. Yang tertarik pada musik Indonesia pada kurun waktu tersebut. Keepkeep sebagai toko rilisan fisik yang fokus pada piringan hitam mempunyai banyak koleksi musik Indonesia. Sementara Cahaya yang profesinya musisi/dj mempunyai ketertarikan untuk meng-“edit” atau membuat remix dari lagu-lagu Indonesia dari masa yang lampau.

Read More

Love The Band, Respect The Crew

Kata-kata itu pertama kali saya dengar  dari seorang merchandiser band yang populer lewat twitter dengan nama  @themerchdude. Dari dia, saya mengetahui banyak hal tentang bagaimana caranya menjadi merchandiser sebuah band. Tentang tanggung jawab seorang merchandiser yang harus tahu berapa banyak barang yang harus dipersiapkan ketika band hendak tur. Bagaimana dia harus bernegosiasi dengan venue tempat manggung band, bagaimana dia menghadapi para penonton yang hendak membeli merchandise band yang dia ikuti turnya juga proses yang dia lihat dan dia alami sepanjang dia berinteraksi dengan fans dan band sampai akhirnya dia menciptakan slogan “Love The Band, Respect The Crew”.

Jika tidak akrab dengan istilah merchandiser yang mungkin bukan sebuah profesi yang umum di sini, mari kita perjelas. Merchandiser adalah orang yang bertanggung  jawab atas segala sesuatu yang berhubungan dengan produksi sampai penjualan merchandise sebuah band.

Scene musik Indonesia belum terlalu akrab dengan istilah ini karena memang tidak semua band punya  divisi merchandise atau tidak semua band punya keberuntungan untuk tur dan harus produksi merchandise dalam jumlah banyak. Soal bagaimana caranya menjadi merchandiser, mari kita bahas di postingan lain. Kali ini, kita akan membahas tentang bagaimana seorang merchandiser bisa menciptakan slogan itu tadi, mencintai band dan menghormati kru.

Read More

Band itu Butuh Penggemar, Bukan Butuh “Teman”

Ungkapan itu tercetus saat saya sedang berdiskusi dengan seorang teman tentang gogon, gosip-gosip undergound, situasi industri musik indie dibanyak kota dan tentu saja situasi Bandung sebagai tempat tinggal kami berdua. Ungkapannya muncul karena di banyak tempat kadang justru teman adalah yang terdepan minta gratisan.

Ketika tahu temannya baru rilis album atau merchandise, yang pertama ditanyakan adalah bisa meureun, jatah urang mana euy? Bisa kali minta albumnya. Pun jika membuat konser terutama konser lokal, bisa jadi teman yang justru sama-sama mencari uang dari hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari ini menjadi seseorang yang gencar meminta jatah tiket masuk gratis sementara yang didengungkan adalah support your local music, support your local movement. Masbro, Mbaksis, kok bisa ya situ nyuruh support your local movement tapi situ gak dukung local movement temannya?

Read More

Archipelago Festival 2017 // Merchandise

Bersama Arian13 dan Eric Wirjanata di Archipelago Fest 2017 yang diselenggarakan oleh Sounds From The Corner

Deugalih Merilis Album Solo Tanah Ini Tidak Dijual

Galih datang di bulan Desember 2016, langsung dengan permintaan untuk kami membantu dia merilis album Tanahku Tidak Dijual. Album ini rilis pada RSD, April 2017.

Pers Rilis

Deugalih Merilis Album Solo Tanah Ini Tidak Dijual

Berjumpa dengan Galih, artinya bertemu dengan energi yang meloncat-loncat. Sebentar dia akan bicara soal rencananya tentang album, lalu berpindah obrolan tentang keinginannya membuat video, pindah cerita lagi soal tema apa yang ingin dia angkat kali ini. Rencananya banyak, semua bermuara pada satu hal, album solo baru yang sedang ia garap, Tanah Ini Tidak Dijual.

Mengangkat tema Tanah, yang merupakan kelanjutan dari tema Air yang ia tuangkan bersama bandnya, Deugalih & Folk dalam album Anak Sungai, kali ini Galih ingin berjalan sendiri dengan nama Deugalih. Proses pembuatan albumnya sudah berjalan selama dua tahun sebelum akhirnya ia merangkum semuanya dalam 14 lagu, direkam dengan cara satu kali take di studio yang menghabiskan waktu hanya dua hari.

“Album ini temanya berat sekali tapi saya ingin membuat ini menjadi sesuatu yang remeh.” begitu katanya. Semua liriknya pendek tapi didalamnya ada begitu banyak cerita dan harapan. Tentang pulang ke kampung halaman, tentang tanah yang selalu menjadi perebutan kekuasaan, modal yang berputar di kota, TKI, Papua, Kendeng, Batang dan banyak lainnya, ada di album ini.

Read More

SOUNDQUARIUM | Kisah Joni dan Susi di Album Melancholic Bitch – Omuniuum

Hypnagogic Journey Concert

Pers Rilis

Bermain band dari tahun 2005, Bottlesmoker selalu percaya bahwa musik sesungguhnya adalah energi kegembiraan yang selalu harus dibagikan kepada banyak orang. Mereka selalu memilih untuk membagikan setiap album yang mereka buat dengan gratis.

Begitu juga dengan album ke-4 mereka, Hypnagogic yang pada tahun 2013 dirilis melalui format digital lewat netlabel Dystopiaq Records dari London – Tokyo. Tapi ternyata Bottlesmoker juga punya mimpi untuk mewujudkan kemasan fisik berupa CD setelah selama ini merilis album-album mereka dalam bentuk digital. Keinginan  mereka kemudian dimudahkan oleh masuknya bantuan dari teman baik dan partner sponsor yang juga sepenuhnya mengerti dan memberi kebebasan terhadap apa yang mereka inginkan.

Read More

Seribu Keping

wake up, don’t you hide now. 
sometime this morning someone, takes you on the run. 
breathe up all you can somehow, 
sometime this morning someone will take you run. 
takes you run | off her love letter – melancholic bitch
Beberapa hari yang lalu, saya memperhatikan timeline twitter, ada beberapa teman saya bicara soal keuntungan dari penjualan CD, cara jualan CD, digital, rilisan fisik, cara pembayaran, etc, etc.
Perdebatan yang tidak pernah ada ujungnya.
Sama halnya dengan perdebatan tentang kekalahan penjualan cd fisik dari pembajakan, itu juga sesuatu yang tidak pernah ada ujungnya. Nah, tapi saya tidak akan bicara soal pembajakan, masalahnya, saya sendiri masih rajin download lagu luar dari situs-situs penyedia jasa download ilegal. Sementara untuk rilisan lokal karena ada beberapa distributor yang menitipkan rilisan dari banyak band lokal ke tempat kerja saya, otomatis saya tinggal menyisihkan saja dari uang jajan dan tinggal berjalan beberapa langkah ke rak cd yang ada di tempat saya sendiri.
Berangkat dari pengalaman keseharian, saya hanya bisa tertawa membaca perdebatan tak ada ujungnya itu. Masalahnya, habis waktu dan energi untuk berdebat sementara sebetulnya daripada berdebat diluar dan berkoar-koar, lebih baik ngobrol dengan masing-masing personil band dan siapapun yang dipercaya untuk menjual apapun yang dihasilkan band karena situasi untuk setiap band, setiap produk yang dihasilkan, setiap hal itu bisa berbeda.

Read More

Catatan Kecil dari Sebuah Album Berjudul Gemuruh Musik Pertiwi

Kalau ada yang bilang bahwa menulis itu susahnya pada saat pertama memilih kata untuk memulai maka saya mengalaminya saat ini. Entah sudah berapa kata bahkan paragraf yang saya tulis kemudian saya hapus kembali.
Masalahnya, saya sulit memposisikan diri saya sebagai siapa. Sebagai fans yang tergila-gila pada rilisan baru band idola, saya juga punya tanggung jawab untuk tidak menyeret opini yang membaca tulisan saya sebagai media propaganda untuk meningkatkan penjualan album yang secara tidak kebetulan sampai saat ini baru di jual di tempat saya bekerja, omuniuum.
Sebagai penjual yang harus objektif alias adil berimbang pada setiap rilisan yang masuk ke tempat kerja saya juga sulit karena saya tidak bisa membendung keinginan saya untuk menuliskan bahwa album ini adalah salah satu album yang buat saya masuk kategori bagus dan enak didengar (!!!).
Saya tidak malu mengakui bahwa saya adalah salah satu orang yang telat mendengarkan Komunal. Satu-satunya penanda saya tahu nama Komunal adalah bertahun-tahun yang lalu saya bertemu dengan merchandise mereka di sebuah distro berupa patches dengan design gambar muka personil dan tulisan pasukan perang dari rawa.
Sampai kemudian bertemulah saya dengan orang yang bertanggung jawab atas distribusi merchandise Komunal yang tak lain dan tak bukan adalah vokalis dari band pasukan perang dari rawa ini. Masuklah merchandise mereka ke tempat saya bekerja. Setelah itu tanpa sengaja, saya menonton mereka manggung di sebuah pesta meriah perkawinan teman saya.
Oh, begitu toh gaya mereka manggung, saya suka. Setelah itu menonton mereka manggung sebisa mungkin lalu bertemu dengan fisik dari album Hitam Semesta dan itu terjadi dalam waktu kurang dari empat tahun. Jadi saya tidak mengalami kemarahan album pertama mereka Panorama dan terlambat mengalami gelapnya Hitam Semesta. Saya benar-benar bertemu dengan mereka di masa yang lebih tenang dan menyenangkan, Gemuruh Musik Pertiwi.

 

 

Saya ingat pertama kali saya melihat mereka membawakan single pertama yang juga menjadi track pertama dan didapuk jadi judul album mereka, GMP. Bandung berisik 2011. Disini uang dan politik tak ada artinya. Lirik yang maknanya menggambarkan carut marutnya negara, dibawakan dengan gaya yang nyeleneh dari vokalisnya, suara gitar yang penuh distorsi, yang begitu pertama kali dibawakan langsung membuat yang mendengar hapal dan digumamkan dalam perjalanan pulang.

Untuk membahas GMP dari segi musiknya, kelemahan saya dari dulu adalah saya buta nada. Tidak bisa nyanyi, tidak bisa mengenali nada sumbang, tidak bisa membedakan mana gitar ini mana gitar itu, tidak tahu banyak soal hal-hal teknis bermusik, susah hapal nama personil, banyak kebodohan saya dalam soal itu. Tapi saya suka mendengarkan musik yang menurut kuping saya enak. Begitu menurut kuping bodoh saya musiknya enak, hal yang kedua saya cari adalah lirik lagu. GMP buat saya punya keduanya.

Simak saja lirik dari lagu Rock Petir
ini musik kami/berkumandang liar megah/mewarnai hidup/takkan pernah terbeli/keyakinan ini/bagai cinta yang abadi/membangun pusara/hingga dibawa mati/dalam nada bagaikan besi/simbol perlawanan atas nama seni

atau lirik dari Lagu Berani
walaupun kami kalah kami takkan pernah menyerah/semua takkan terduga/ganas cerita malam penghias layar kaca/kuatkah kau menatapnya?/setan tertawa berpesta pora/kami tak berhenti/kami takkan berhenti/dendangkan lagu ini

dan lagu terakhir di Gemuruh Musik Pertiwi, Ngarbone yang didedikasikan untuk seorang sahabat yan telah “pergi” 
doa mengalir mengenang engkau/beri penghormatan untuk selamanya/dilain masa kita akan bertemu/pendidikan formal hanya pergaulan/semua telah digenggam/ini bukan mimpi jadi kenyataan/istirahat yang tenang

Liriknya sederhana, apa adanya, tapi kuat makna dan gampang diingat. Begitupun musiknya. Rasanya tidak sulit mencerna apa yang ditawarkan Komunal di album GMP ini. Ketika Komunal menegaskan dalam pers rilis mereka bahwa secara lirik GMP menceritakan betapa menyenangkan bermusik dalam sebuah institusi bernama Komunal, hal itu tertangkap dalam album ini. 37 menit 33 detik yang ditawarkan begitu singkat padat dan jelas. Kami main musik yang kami suka, silakan dengarkan.Tidak lebih, tidak kurang.

Itu juga yang tertangkap dari apa yang saya lihat dikerjakan oleh mereka selama ini. Dalam masa kurang dari empat tahun saya berkenalan dengan Komunal, saya bertemu satu persatu dengan anggota keluarga mereka. Sering ngobrol, bercerita, melihat mereka mengatur ini dan itu, melihat cara mereka hidup dan survive untuk melanjutkan keyakinan mereka terhadap sesuatu bernama “musik”.

Dari mereka saya belajar benar-benar melihat bahwa setiap band punya cara sendiri untuk tetap berkumpul dan bekerja. Tidak bisa disama ratakan kondisi dan keadaannya. Di band ini caranya begitu belum tentu berhasil di band lain dan sebaliknya.

Saya jadi salah seorang yang tidak sabar menunggu ketika ada berita mereka akan rilis album. Saya juga jadi orang yang beruntung karena bisa mendengarkan lebih dulu dari yang lain dan mengalami gemuruhnya album ini saat rilis pada tanggal 3 April 2012. Bagaimana tidak gemuruh kalau hari itu tempat saya bekerja diserbu sekitar 200 sms, puluhan email dan entah berapa mention di twitter. Belum lagi yang mampir ke toko untuk membeli.

Sebagai teman, saya bangga. Sebagai pendengar musik, daftarkan nama saya jadi salah satu fans mereka. Sebagai penjual, saya berseri-seri dan berterima kasih. Segan.

*****

* Komunal bisa diikuti di twitter: @komunal atau silakan like page facebooknya: Komunal Indonesia

Page 2 of 2

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén