Boit's Blog

life is real

Category: Musik Page 1 of 2

Catatan Dari Mosh Pit

View this post on Instagram

Tadi malam gw crowd surf, diangkat dari tengah penonton sampe ke panggung. Dari panggung, kayaknya sebagian yang dibawah nyangka gw udah diturunin, padahal belum. Ga ngeh juga kronologisnya gimana pokoknya tau-tau gw udah baring di lantai. Sambil nyengir lebar, karena adrenaline rush menguasai seluruh tubuh. Antara shock, senang, bernafas lega, bersyukur jatuhnya nggak bikin celaka. Kayaknya cuma sepersekian detik gw baring karena juga banyak yang panik dan langsung ngebantu bangun. Tapi ya tentu saja itu resiko kalau ikut kerumunan di mosh pit. Kalo gak ingin kesenggol, ketampol, ketendang, ketimpa sepatu, plus kemungkinan jatuh ketika crowd surf, ya nontonnya di safe area. Biasanya, ada aja penonton yang secara otomatis berdiri jagain di sekeliling area mosh pit. Nah dari situ ke belakang biasanya cukup aman untuk nonton. Kalo benar-benar ingin mencoba, jangan lupa kalau ini area full body contact. Kalau datang bersama teman, titipkan seluruh barang yang rawan jatuh, handphone, kacamata, dompet, kunci. Kalau datang sendiri, cari saja booth merchandise, biasanya yang jaga booth pasti mau aja dititipin barang-barangmu sebentar, minta tolonglah dengan sopan. Ketika di kerumunan, jangan lupa saling bantu jika ada yang jatuh, jangan marah kalo kesenggol, juga bersiap mengangkat penonton lain. Kalau kamu yang crowd surf/stage dive, pasrah aja sama yang ngangkat. Karena kalau sudah di atas mau gimana lagi? Satu lagi, kalau kamu atau temanmu terlalu mabuk dan tidak bisa dikontrol kelakuannya, sebaiknya menjauhlah dari area karena kalau kelakuanmu norak, itu artinya kamu mengganggu orang lain dan bisa jadi mengganggu jalannya pertunjukan. Buatlah mosh pit aman untuk semua. Karena itu area untuk bersenang-senang dan melepas energi bersama band kesayangan, bukan area untuk rese, mencari keributan, mencelakakan dan melecehkan orang lain. Yha. #catatansiboit #hidupadalahkonser #moshpitamanuntuksemua Foto diambil semalam saat konser @komunal #liveatspasial terima kasih untuk selalu jadi band yang seru!

A post shared by Iit Boit (@boit3) on

Acamp – Soundrenaline 2018

View this post on Instagram

3 malam untuk (dikenang) selamanya. Terima kasih @ruangrupa @siasatpartikelir @rururadio untuk kesempatannya juga tentunya buat @the_commonpeople @ardy_siji @alek.kowalski @rendra86 wan alehandro @aleantipony @oomleo dan semua orang yang saking banyaknya susah buat diabsen, maacih! Kali pertama buat gw mengikuti semua keseruan dan keriaan #soundrenaline2018 dan #acampsoundrenaline2018 berjumpa dengan banyak teman antar kota antar provinsi, lintas generasi, berjejaring, bicara banyak hal, nonton banyak sekali band dan olahraga naik turun bukit tebing batu gwk, tidur di tenda super nyaman dan parti super seru diakhiri ceramah kesenian dari @erwindupranata. Sungguh pengalaman festival yang masuk dalam laci memori seumur hidup. Next keriaan, super super super please! 🖤 Ini sedikit foto yang tersimpan di hape. Foto terakhir udah ga bisa di tag, mention aja kali ya @jinpanji piss love dan salam olahraga! ✌🏻 #hidupadalahkonser #catatansiboit #banyaktemanbanyakrejeki #musikmemangmenyatukansegalanya

A post shared by Iit Boit (@boit3) on

Acamp – Soundrenaline 2018

Mati Sebelum Mati – Brotherwolf Sistermoon

Dua kecapi, gembyung atau rebana, goong tiup, celempung ditambah vokal bukanlah pilihan yang biasa untuk musik folk tapi itu adalah jalan musik yang dipilih dan ditempuh oleh Brotherwolf Sistermoon.

Terbentuk secara insidental karena keinginan untuk kembali membuat percobaan menggali tradisi dalam memainkan musik, Okid yang juga merupakan vokalis Gugat sekaligus pentolan Karinding Attack mengajak Hendra yang juga tergabung dalam Karinding Attack, Alice, Ajeng, Tio, Zalu dan kemudian menyusul Gan-gan. Dua nama terakhir adalah personil band Forgotten.

Lucunya, saat awal terbentuk pada Agustus 2017, mereka langsung didapuk untuk mengisi acara di pembukaan sebuah tempat wisata di Bandung.

“Jangankan album, lagu aja belum ada” seru Alice sambil tertawa.

“Yang bodor (lucu) juga Brotherwolf Sistermoon itu namanya muncul gara-gara saya sedang mendengarkan lagu The Cult. Jadi kita ini grup musik tradisi yang namanya ke-inggris-inggrisan” tambah Alice dengan tawa yang makin lebar.

Cukup tentang nama, cita-cita Brotherwolf Sistermoon adalah mencoba mengingatkan manusia untuk
kembali bersatu dengan semesta. Pun dengan single Mati Sebelum Mati yang berangkat dari kegelisahan melihat manusia yang makin tidak menghargai satu sama lain dan pergeseran gaya hidup yang makin jauh dari nilai luhur warisan budaya.

“Tapi kami tidak ingin menggurui, makanya kami melakukan ini lewat musik agar bisa dengan mudah masuk dan didengar orang. Bersyukur saya berjumpa dengan teman-teman yang satu visi dan juga ingin mengeksplorasi hal yang sama”

“Brotherwolf Sistermoon juga beruntung karena ternyata masing-masing personil dengan alat dan kemampuan masing-masing memang punya akar dalam seni tradisi. Ditambah Gangan yang punya kemampuan notasi musik, meski kita punya keterbatasan nada karena alat musik yang kita pilih, setidaknya nadanya benar.” Tutur Okid.

Menurut rencana, single “Mati Sebelum Mati” akan rilis bersama 5 lagu lain dalam bentuk kaset yang dirilis oleh 100.000 records dan album penuh dalam bentuk CD sebelum akhir tahun ini. (Boit/2018)

Link: Soundcloud

Mati Sebelum Mati

I. Sadarlah kau hai manusia
Kau hidup di alam kepalsuan
Arogansi menyesatkan
Terhanyut dalam keserakahan

II. Jiwa-jiwa tak tentu arah
Terbelenggu musuh yang nyata
Diri angkuh untuk bersujud
Terpuruk melarat dalam sekarat

Reff :
Leburlah badan menjadi nyawa
Leburlah nyawa menjadi rasa
Leburlah rasa menjadi cahaya
Lalu sirna
Tinggalah Hyang Agung abadi

Kembali ke II, Reff 2x

Mati sebelum mati
Matilah sebelum mati 2x

 

Tentang Brotherwolf Sistermoon

Brotherwolf Sistermoon adalah band yang berasal dari kota Bandung dengan personil Hendra Romadon/Herbal (celempung), Uun Ajeng Maulidari/Ajeng (kecapi), Dikky Mochamad Dzulkarnaen/Okid (goong tiup, karinding), Gangan Ginanjar/Gan-gan (kecapi, suling), Satio Wikuntoro/Tio (backing vocal), Rizalu Ramdhan/Zalu (gembyung), Lisna Listriana Riadini/alice (vocal). Terbentuk sejak 2017, mengawinkan musik folk dan tradisi, mereka tidak mau keterbatasan nada alat musik mereka jadi penghalang agar musik mereka bisa diterima dunia. Menurut rencana album penuh mereka akan rilis dalam waktu dekat.

 

Kontak:

Okid 081214905553 | okidgugat@gmail.com |

  1. bwolfsmoon

Review | Seringai, Seperti Api (2018)

Gue sebetulnya gak bisa jernih kalo ngomongin band satu ini. Karena secara personal, selain kedekatan pribadi, mereka adalah salah satu band (dari banyak yang gue kenal) yang tumbuh bareng dan membentuk banyak hal yang gue kerjain di Omu. Gue coba sebisanya untuk objektif, tapi gak janji. 🤞🏻 Album Seringai Seperti Api ini kalau analoginya masakan, dia punya rasa yang pas. Ngga kurang, ngga lebih. Seringai yang jalurnya tetap pada apa yang gue lihat di keseharian mereka. Keras, (ya namanya juga musik metal) sekaligus juga benar-benar tahu caranya menikmati apa yang mereka kerjakan. Curhat dan bisa jadi marah pada banyak hal tapi gak pake bahasa dan cara yang katro. Pujian ini juga boleh dilempar ke penulis liriknya Seringai, sebagai salah seorang penulis lirik berbahasa Indonesia terbaik di skena ini. Selain itu, yang gue suka dari mereka adalah kepercayaan mereka pada proses dan memikirkan banyak detail yang membuat hasil akhir dari apa yang mereka kerjakan bisa diterima banyak orang, terutama penggemarnya (cung!). Mungkin sama dengan kalau ditanya rasa makanan, yang terkadang orang bilang cuma ada dua kategori, enak dan enak banget. Buat gue, album ini masuk kategori enak banget. Btw ini bukan iklan. Album ini juga gak gue dapat dengan gratis. Gue beli di omu dan baru bisa dengerin penuh seharian ini. Gue adalah penggemar yang beruntung karena bisa terlibat distribusi album ini untuk sampai ke tangan sesama penggemar di seluruh penjuru Indonesia. Kudos, Seringai! 🤘🏻 #sepertiapi #serigalamilitia #seringai #jajandiomu P.S. Sebagai adik, gue cuma agak cemas apakah abang-abang ini mampu membawakan satu album ini secara live, mengingat ehm.. umur.. ehm.. jangan lupa vitamin dan olah raga ya bang-abang.. 🤗

A post shared by Iit Boit (@boit3) on

Mr. Sonjaya: Cukuplah

Abis diminta bantuan buat nulis pers rilis singlenya Mr. Sonjaya yang baru, Cukuplah..

Mr. Sonjaya: Cukuplah

Kelompok musik folk dari Bandung, Mr. Sonjaya merilis single sebagai bagian dari album baru yang menurut rencana akan rilis sebelum tahun 2018 ini berakhir.

Tembang tersebut diberi judul “Cukuplah”. Berkisah tentang kekuatan cinta abadi dari sosok ibu yang meski tak selalu hadir nyata dan ada, tapi selalu menjadi kekuatan yang selalu hadir dalam titah-titah lembut imajinasi kepala. Tentang kehilangan yang bisa terjadi pada siapa saja, kemunduran mental yang terjadi ketika merasa kalah.

Read More

Bersama-sama Kita Menuju Semesta

Tugas saya di Limunas adalah menulis pengantar dan mengelola sosial media Limunas tulisan ini saya buat ketika Limunas mengundang Melancholic Bitch dan Teman Sebangku menjadi pengisi acara Limunas IV pada bulan Mei 2013.

Pers Rilis

Bersama-sama Kita Menuju Semesta

Nama konser menuju semesta dipilih karena tema perjalanan cukup menjadi bagian penting dari tema musik Melancholic Bitch, baik itu di album perdana mereka, Anamnesis (yang sekarang dirilis ulang sebagai Re-Anamnesis) maupun “album cinta pesisir” Balada Joni dan Susi.

Terakhir tampil di Bandung pada tahun 2000, itupun hanya muncul sebagai pengiring performance art salah satu penampil di pasar seni ITB, tampaknya sudah saatnya mereka diculik untuk mempunyai panggung sendiri di Bandung.

Mengapa perlu menunggu selama lebih dari tiga belas tahun untuk tampil di Bandung? Pertanyaan itu terjawab jika tahu keseharian dari para personil Melancholic Bitch. Sudah sejak lama band ini dikenal dengan kesibukan masing-masing personilnya. Ugoran Prasad, vokalisnya, sibuk bolak balik menimba ilmu ke luar negeri selain tentunya bekerja sebagai pengarang, peneliti pertunjukan dan belakangan juga menjadi direktur program Teater Garasi. Yosef Herman Susilo, sang gitaris, sibuk menjadi bapak dari dua anak dan menjual kemampuan merancang sound untuk banyak pertunjukan seni di Jogja. Yennu Ariendra, selain sebagai gitaris dan penanggung jawab departemen synth pada Melancholic Bitch, juga punya kesibukan utama sebagai komposer dan music director berbagai karya teater, selain juga bermusik bersama Belkastrelka. Richardus Ardita yang bertanggung jawab di departemen Bas juga punya band bernama Shoolinen selain Individual Life, di tengah kesibukannya sebagai web-designer. Septian Dwirima, dikabarkan sedang hiatus dengan musik untuk berkonsentrasi untuk perjalanan spiritualnya. Kabar hiatus ini juga terdengar dari Wiryo Pierna Haris, sebab gitaris ini sedang berada di negeri Paman Sam untuk waktu yang cukup lama. Peta kesibukan personil Melancholic Bitch memang terdengar begitu riuh; tapi ini bukan alasan yang mencegah kita untuk menculik mereka.

Read More

Kompilasi Darah Muda: Cahaya S

Tulisan ini dibuat untuk kompilasi Darah Muda yang dirilis oleh Keepkeep Musik untuk perayaan #rsdbdg2018.

Rilis Pers
Kompilasi Darah Muda: Cahaya S

Tersebutlah nama-nama seperti Prambors Bram, Denok Wahyudi, Katara Singers, Wachdach Band, Duo Kribo dan Nani Sugianto. Bagi yang familiar dengan nama-nama tersebut di atas kemungkinan besar adalah satu, yang sudah berumur cukup dewasa kalau tidak mau dibilang tua. Dua, yang punya ketertarikan pada musik Indonesia pada kurun waktu awal 80-an atau karena orang tuanya sering mengenalkan koleksi musiknya.

Cahaya S dan Keepkeep Musik termasuk golongan kedua. Yang tertarik pada musik Indonesia pada kurun waktu tersebut. Keepkeep sebagai toko rilisan fisik yang fokus pada piringan hitam mempunyai banyak koleksi musik Indonesia. Sementara Cahaya yang profesinya musisi/dj mempunyai ketertarikan untuk meng-“edit” atau membuat remix dari lagu-lagu Indonesia dari masa yang lampau.

Read More

Love The Band, Respect The Crew

Kata-kata itu pertama kali saya dengar  dari seorang merchandiser band yang populer lewat twitter dengan nama  @themerchdude. Dari dia, saya mengetahui banyak hal tentang bagaimana caranya menjadi merchandiser sebuah band. Tentang tanggung jawab seorang merchandiser yang harus tahu berapa banyak barang yang harus dipersiapkan ketika band hendak tur. Bagaimana dia harus bernegosiasi dengan venue tempat manggung band, bagaimana dia menghadapi para penonton yang hendak membeli merchandise band yang dia ikuti turnya juga proses yang dia lihat dan dia alami sepanjang dia berinteraksi dengan fans dan band sampai akhirnya dia menciptakan slogan “Love The Band, Respect The Crew”.

Jika tidak akrab dengan istilah merchandiser yang mungkin bukan sebuah profesi yang umum di sini, mari kita perjelas. Merchandiser adalah orang yang bertanggung  jawab atas segala sesuatu yang berhubungan dengan produksi sampai penjualan merchandise sebuah band.

Scene musik Indonesia belum terlalu akrab dengan istilah ini karena memang tidak semua band punya  divisi merchandise atau tidak semua band punya keberuntungan untuk tur dan harus produksi merchandise dalam jumlah banyak. Soal bagaimana caranya menjadi merchandiser, mari kita bahas di postingan lain. Kali ini, kita akan membahas tentang bagaimana seorang merchandiser bisa menciptakan slogan itu tadi, mencintai band dan menghormati kru.

Read More

Band itu Butuh Penggemar, Bukan Butuh “Teman”

Ungkapan itu tercetus saat saya sedang berdiskusi dengan seorang teman tentang gogon, gosip-gosip undergound, situasi industri musik indie dibanyak kota dan tentu saja situasi Bandung sebagai tempat tinggal kami berdua. Ungkapannya muncul karena di banyak tempat kadang justru teman adalah yang terdepan minta gratisan.

Ketika tahu temannya baru rilis album atau merchandise, yang pertama ditanyakan adalah bisa meureun, jatah urang mana euy? Bisa kali minta albumnya. Pun jika membuat konser terutama konser lokal, bisa jadi teman yang justru sama-sama mencari uang dari hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari ini menjadi seseorang yang gencar meminta jatah tiket masuk gratis sementara yang didengungkan adalah support your local music, support your local movement. Masbro, Mbaksis, kok bisa ya situ nyuruh support your local movement tapi situ gak dukung local movement temannya?

Read More

Page 1 of 2

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén