Boit's Blog

life is real

Category: Blog

Catatan Kecil dari Akhir Pekan Bersama Senyawa, A Stone A dan Bon Iver

Kamu tau bagian apa yang paling susah kalau mau menulis paska pertunjukan yang bagus? Meredakan euforia. 

Dada masih rasa sesak oleh gembira. Hati masih penuh oleh rasa syukur. Bebunyian masih terngiang di kepala. Bangun pagi tadi rasanya masih seperti mimpi. 

Hari ini, paska pertunjukan semalam, gw ke Jakarta untuk menonton Bon Iver. Berharap kembali memijak bumi mendengar Skinny Love dan Holocene. Menonton band yang dikomentari Mas Rully dengan “Oh, Justin” ketika gw bilang bahwa gw ga bisa ikut ke Jatiwangi karena mau nonton band temennya Mas Rully, ampun mas. 

Bon Iver

Dan setelah gw nonton Bon Iver, mohon maaf, meski pertunjukannya bagus tapi ternyata pesonanya masih kalah oleh pertunjukan kecil yang hangat di Bale Handap Selasar Sunaryo, dengan jumlah penonton sekitar 180 orang yang gw yakin komposisinya 60% saling kenal satu sama lain dan harga tiket hanya 10% dari harga tiket standing festival nonton mas Justin Vernon tapi dengan nilai pengalaman yang 100% bahkan 200% lebih berharga. 

Read More

Lintasan Pikiran #84646162

Pulang ke kotamu..

Menuntaskan pembicaraan. Menghadiri pernikahan. Meramu cerita. Menjumpai kesedihan. Berpapasan dengan kegembiraan.

Terima kasih untuk selalu menyediakan alasan untuk merayakan hidup.

Sesungguhnya kita memang selalu butuh perlindungan, dari diri kita sendiri.

Klebengski. 30 Des 2019.

Suatu Malam di Kanal HQ

Main ke Jatinangor lagi akhirnya, karena diundang oleh Kongsi Meraki di markasnya mereka, Kanal HQ buat ngobrol bareng Musicomerch yang lagi launching webnya mereka.

Surprisingly fun. Selain tempatnya nggak neko-neko karena dibangun oleh kecintaan mereka sama musik dan juga lingkungan, nggak nyangka juga di Jatinangor ada tempat yang begitu hangat dan menyenangkan. Malah jadi ngiri. Haha.

Sebelum ngobrol ada band-band-an, seudah ngobrol juga masih ada band-band-an. Ngobrolnya? Kalo dari gw sih berbagi tentang omu dan tentunya berharap semoga semua maju biar si Omu makin banyak temennya. Semoga ada manfaatnya kehadiran si gw yang disebut teteh indie ama aa vokalis Geliat.

Semoga semua panjang umur!

Gass.

Sesungguhnya yang paling utama adalah ini tentang bagaimana dulu dua puluh tahun yang lalu, kami; gw dan beberapa teman dari jogja selalu bertukar tulisan dalam selembar kertas. Fast forward ke tahun 2019, kertas itu kembali datang dari kota yang sama, lewat teman yang berbeda.

View this post on Instagram

Malam itu, sesaat sebelum pulang yang kita ketemu tanpa rencana dan tanpa janji sebelumnya. Dua halaman dari buku catatan dirobek dan diserahkan. “Ini kayaknya sesuai dengan kamu, dengan apa yang kalian lakukan. Aku gak bawa apa-apa untuk diberikan soalnya. Ini aja.” Kira-kira seperti itu ucapan mas @faridstevy setelah perayaan yang juga tidak direncanakan, menutup dengan kegembiraan sekaligus mengucapkan janji temu kembali. Dua halaman yang sangat berharga itu entah dibuat kapan, tapi tentu saja bukan dua puluh tahun yang silam ketika pertama kali gw berkenalan dengan banyak teman yang sekarang menjadi keluarga dari kota istimewa. Membawa gw kembali berpikir bahwa memang, sesuai dengan “mengingat bagaimana ini bermula, di saat sesudah sejauh ini jalannya”. Banyak hal yang terjadi dalam beberapa hari ini yang membuat kata terima kasih jadi tidak berkutik kalau bukan dirasa basi saking banyak dan penuhnya kegembiraan yang terjadi. Tapi, kata apa lagi yang tepat selain kata terima kasih? Kertasnya, menggenapkan semua. Liriknya mewakili. Yang gw sangat suka, “berjalan tak seperti rencana adalah jalan yang sudah biasa, dan jalan satusatunya jalani sebaik yang kau bisa”. Matur nuwun sanget, mas. Mengutip kata teman baik yang lain, dari band yang lain, “kalian menggores kami dalam-dalam”. #catatansiboit #menangkapteman #limunasxv • • Foto sekitaran malam ke siang ke malam yang memang tidak semua direncanakan, tapi di gas sekencang-kencangnya. Foto terakhir pinjam pakai dari @rezazulmiy, nuhun! Ada juga foto a @zems_mubarok ga bisa ditag karena cuma bisa ngetag dua puluh orang. Catatan kecil yang tidak pendek tentang #limunasxv bisa dibaca di blog pribadi gw. Linknya ada di profil.

A post shared by Iit Boit (@boit3) on

Review | Searching

Searching (2018), Sutradara: Aneesh Chaganty. Beberapa hari lalu liat postingan @aparatmati di story-nya dia yang bilang kalo film ini plot, cerita dan timelinenya bagus. Gw langsung penasaran. Setelah minggu lalu jadinya nonton the meg si hiu raksasa pemakan hiu raksasa (yawloooo) karena film ini ga ada di bioskop dekat tempat kita ada urusan, akhirnya semalam jadi nonton beramai-ramai setelah tutup toko. Untuk cerita cukup klasik, kalo suka poirot atau serial detektif atau suka nonton law and order pasti pernah menemukan cerita seperti ini. Ibu yang sudah meninggal. Anak remaja kesepian tiba-tiba hilang, ayah yang panik, twist cerita menjelang akhir film yang bikin komentar oooh ini orangnyaaaa, yaaaa cukup standar. Yang menarik adalah semua disajikan lewat layar. Layar komputer, handphone, cctv, televisi, semua jadi realita yang sangat dekat dengan kita sehari-hari di jaman sekarang. Bagaimana kamu merasa cukup tahu kepribadian dan perilaku orang terdekat lewat sosmed. Brengseknya netizen dan people’s journalism, fananya follower dan betapa mudah kamu jadi orang lain di internet. Asumsi-asumsi via text yang dibaca di applikasi pesan pribadi. Lapisan demi lapisan yang mengungkap, ternyata orang terdekat kita bukanlah seperti yang kita kira. Timelinenya memang apik, realistik sekali dan relatable dengan banyak situasi kita (kita? Lo aja kali). Sekali lagi terutama untuk orang tua dan anak remaja (film ini ratenya 13+). Sempatkan nonton, mumpung masi ada di bioskop. Satu lagi, ngobrol, jangan selalu percaya apa yang ditampilkan orang di sosial media. #catatansiboit

A post shared by Iit Boit (@boit3) on

Lompatan Pikiran #7373637

Jadi, saya sering sekali menulis di notes handphone, ide-ide kecil atau apapun yang terlintas di kepala. Beberapa bisa panjang tapi lebih sering pendek-pendek, satu atau dua kalimat atau bahkan hanya sapaan yang terlintas dalam pikiran pada orang yang sedang jauh dari saya.

musik itu tentang ingatan. Sama dengan wangi yang bisa mengingatkanmu pada sosok seseorang, musik bisa membawamu pulang pada satu masa. Mungkin hanya lirik yang sepenggal atau nada atau bahkan wajah-wajah yang kau temui pada sebuah pertunjukan.

Kadang, kita tdak ingin pulang, memang. Tapi coba saja jangan berdendang ketika lagu kesukaanmu berkumandang. Pasti gagal.

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén