Boit's Blog

life is real

Author: boit Page 1 of 4

Sebelas Lagu untuk Pesta Gaduh Indonesia

Waktu Jaka meminta saya menulis untuk zine Estafet, saya tadinya mau menulis tentang rilisan fisik atau sesuatu yang berhubungan dengan Record Store Day Bandung tapi ternyata seperti tanggal RSD di Bandung yang terpaksa mundur karena ada Pemilu tanggal 17 April 2019, pikiran saya juga terbelah jadi banyak cabang karena pemilu. Kemanapun melangkah rasanya pemilu ada dimana-mana dan bahkan saat masa tenang, saya juga menghabiskan waktu di layar handphone, menonton film dokumenter Sexy Killers besutan Watchdog yang membuat berpikir, rakyat ini fungsinya apa selain angka statistik untuk melegalkan kekuasaan demi melindungi para pengusaha yang semana-mena merampas kehidupan rakyat?

Hari ini, sepulang dari Tempat Pemungutan Suara, setelah mencelup jari kelingking menjadi ungu, saya mengesampingkan pikiran tentang apakah tetangga di sebelah kotak pemilihan suara mendengar bunyi tusukan paku yang berkali-kali atau enggak, akhirnya saya memutuskan untuk menulis sebelas lagu yang saya bayangkan asyik sekali kalau dibawakan didepan para pejabat yang baru saja berkuasa atau mungkin buat pak Sandiaga Uno yang menurut berita yang saya baca mengalami cegukan nggak putus-putus setelah quick count yang menyatakan bahwa kubu lawannya memenangi pemilihan umum kali ini.

Berikut ini adalah lagu-lagunya.

1. Aspal Dukun, Melancholic Bitch.

Aspal sampai di kampung terujung

Sembari memanggul, punggungnya,

Jaringan waralaba, toko segala ada

Aspal sampai di kampung terujung

Karena pembangunan di Indonesia selalu identik dengan jalan raya yang membentang sampai ke desa-desa atau bahkan mungkin kemajuan bisa diukur dengan munculnya Indomaret atau Alfamart di banyak desa, lagu ini terngiang di telinga ketika satu saat saya naik ojek dan tukang ojek bercerita dengan antusias bahwa pembangunan jalan aspal adalah bukti bekerjanya pemerintah. Kebayang ga sih Hary Tanoe mengganti lagu mars  Perindo dengan “Jangan ditanya kemana dia pergi, bapak pergi ke dukun!”

2. Absolute Beginner Terror – Teenage Death Star

when i walking down the street
and i saw you in the corner
you crying always yelling
your bloody boyfriend name

i want to see your daddy
i want to see your mommy
i want to see your brother, sister, and your unkle tom
yeaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhh

i am a teenage !! (LIAR!!)
i am a teenage !! (LIAR!!)
i am a teenage !! (LIAR!!)
i am a teenage !! (LIAR!!)

seandainya kita semua bisa bernyanyi lantang untuk setiap wajah yang ada di spanduk dan baligo-baligo yang bertebaran di seluruh penjuru kota, rasanya pasti senang sekali bisa menyanyikan lagu ini dan merusuh di dalam Gedung DPR.

3. Lagu Lama – Seringai

Persetan dengan mereka yang selalu coba meredam
Segala masalah yang selalu kian mengembang
Lingkar tanpa akhir kini kembali mengulang

Tak pernah menguntungkan dari dulu hingga sekarang
Dan selalu saja kita yang menjadi susah, korban
Kapan membaik membuat kita tenang?

Lagu lama, berkumandang
Lagu lama, berkumandang
Lagu lama, didendangkan

Karena kita masih tinggal di Indonesia. Yang selalu berhadapan dengan masalah yang masih itu-itu saja. Dimana koruptor masih bisa hidup dengan tenang dan terhormat, acara kamisan tidak pernah selesai dan Ibu Meiliana masuk penjara. Persetan!

4. Kenyataan Dalam Dunia Fantasi – Koil

Nasionalisme..

Di negara ini kita hidup dan bekerja

Di negara ini kita makan dan berbahagia

Di tanah yang indah ini bersemilah cintamu yang abadi

Di negara busuk ini kita tersenyum pedih

Saya kira, tak perlu ada penjelasan untuk lagu ini. Apalagi setelah saya melihat Prabowo untuk kedua kalinya sujud syukur karena merasa dirinya menang pemilu.

5. Masalah Kami di Negeri Ini – Rajasinga

Kaya raya, suka pesta pora
(tapi) rakyatnya melarat, negaranya sekarat
Bersahaja, penuh tenggang rasa
cuma slogan semata, penghantar tidur saja

Main curang, kerja demi hutang
Masalah kami di negri ini!
Orang pintar, tapi tak berpijar
Masalah kami di negri ini!

Kesana kemari, ikut pemimpin opini
Penyembah idola palsu, percaya kepada hantu

Rumah sakit, untuk yang berduit
gele’ belum legal, sakit masih mahal
Kepercayaan, jadi barang jualan
firman Nya diobral, lewat muncung pembual

Main curang, kerja demi hutang
Masalah kami di negri ini!
Orang pintar, tapi tak berpijar
Masalah kami di negri ini!

Pemerintah sentral, hidupnya seperti dianal
Terkenal sebagai sundal, melayani sipemilik modal

Diperkosa, korban layar kaca
Masalah kami di negri ini!

Bisakah kita mengirim Rajasinga untuk bernyanyi di Istana?

6. Padi Milik Rakyat – Feast

Pajak dari rakyat
Pajak dari rakyat
Jok kiri mobil pemberian ayahmu mungkin milik rakyat
Pajak dari rakyat
Pajak dari rakyat
Setengah harga alamat rumahmu mungkin milik rakyat

Dan sayangnya, negara ini milik pengusaha dan pe(n)ja(h)bat.

7. Keadilan Sosial Bagi Selvrvh Para Pejabat – Bvrtan

No Caption Needed.

8. Tanahku Tidak di Jual – Deugalih

Di ufuk timur, priyayi kuasa atas pertiwi,

Dan tivi milikmu pula, melumat sadar yang kau susun sendiri

Di segala penjuru-penjuru,

Dihilangkan, dibunuh.

Tanahku tidak dijual  

Sekali saja, untuk sekali saja, coba bayangkan tiba-tiba rumah yang kamu tempati selama bertahun-tahun, diambil paksa begitu saja, tanpa bisa melawan, hanya bisa mengelus dada sambil membatin, “Duh Gusti..”

9. Manufaktur Pre-Teks – Fateh

Suara intro latar diambil dari dokumentasi aksi petani Karawang saat melawan perampasan tanah oleh pemerintah dan PT. Agung Podomoro.

Kamu, bisa saja merasa pintar. Merasa berjaya ketika berkoar-koar di media sosial, merasa bahwa kamu adalah raja dengan banyak pengikut, merasa tak terkalahkan dan jagoan. Tapi besok, mungkin besok, kamu bisa saja jadi korban uang dan kekuasaan. Tak pernah ada jaminan kamu bebas dari negara.

10. Akibat Pergaulan Blues

Ini tentang kisah
Dua mata hati
Mata yang menagih janji

Ini tentang janji
Ingin hati-hati

Ada banyak lagu Jason Ranti yang berbahaya. Tapi karena ini adalah pemilu dan kamu sudah termakan janji, jangan lupa menagihnya esok hari.

O,ya sebagai catatan tambahan, saya juga kagum pada Jeje yang berani manggung dengan terhormat di area parkir sebuah acara dibanding musisi yang jual diri jadi jurkam dan jualan menolak lupa.

11. Gemuruh Musik Pertiwi – Komunal

Disini uang dan politik
Tak ada artinya

Biar ku terka semua isi otakmu
Kami dengarkan gelisah di hati
Walau benar atau salah
Sudah tak ada bedanya
Nyanyikan semua tentang rencana ini
Nyalakan semangat Gemuruh Musik Pertiwi

Menutup dengan nada yang bersemangat, sungguh saya ingin sekali mendengar seluruh orang bernyanyi keras-keras, dimana-mana. “Disini uang dan politik tak ada artinyaaa…”

I wish.

Akhir kata, semoga hidup kita se-Indonesia baik-baik saja dan selamat merayakan Record Store Day!

Ditulis untuk zine @estafetkaset dalam rangka RSD Bdg. Silakan kontak estafet kaset melalui akun instagram mereka untuk mendapatkan zine-nya.

Catatan Dari Mosh Pit

View this post on Instagram

Tadi malam gw crowd surf, diangkat dari tengah penonton sampe ke panggung. Dari panggung, kayaknya sebagian yang dibawah nyangka gw udah diturunin, padahal belum. Ga ngeh juga kronologisnya gimana pokoknya tau-tau gw udah baring di lantai. Sambil nyengir lebar, karena adrenaline rush menguasai seluruh tubuh. Antara shock, senang, bernafas lega, bersyukur jatuhnya nggak bikin celaka. Kayaknya cuma sepersekian detik gw baring karena juga banyak yang panik dan langsung ngebantu bangun. Tapi ya tentu saja itu resiko kalau ikut kerumunan di mosh pit. Kalo gak ingin kesenggol, ketampol, ketendang, ketimpa sepatu, plus kemungkinan jatuh ketika crowd surf, ya nontonnya di safe area. Biasanya, ada aja penonton yang secara otomatis berdiri jagain di sekeliling area mosh pit. Nah dari situ ke belakang biasanya cukup aman untuk nonton. Kalo benar-benar ingin mencoba, jangan lupa kalau ini area full body contact. Kalau datang bersama teman, titipkan seluruh barang yang rawan jatuh, handphone, kacamata, dompet, kunci. Kalau datang sendiri, cari saja booth merchandise, biasanya yang jaga booth pasti mau aja dititipin barang-barangmu sebentar, minta tolonglah dengan sopan. Ketika di kerumunan, jangan lupa saling bantu jika ada yang jatuh, jangan marah kalo kesenggol, juga bersiap mengangkat penonton lain. Kalau kamu yang crowd surf/stage dive, pasrah aja sama yang ngangkat. Karena kalau sudah di atas mau gimana lagi? Satu lagi, kalau kamu atau temanmu terlalu mabuk dan tidak bisa dikontrol kelakuannya, sebaiknya menjauhlah dari area karena kalau kelakuanmu norak, itu artinya kamu mengganggu orang lain dan bisa jadi mengganggu jalannya pertunjukan. Buatlah mosh pit aman untuk semua. Karena itu area untuk bersenang-senang dan melepas energi bersama band kesayangan, bukan area untuk rese, mencari keributan, mencelakakan dan melecehkan orang lain. Yha. #catatansiboit #hidupadalahkonser #moshpitamanuntuksemua Foto diambil semalam saat konser @komunal #liveatspasial terima kasih untuk selalu jadi band yang seru!

A post shared by Iit Boit (@boit3) on

Acamp – Soundrenaline 2018

View this post on Instagram

3 malam untuk (dikenang) selamanya. Terima kasih @ruangrupa @siasatpartikelir @rururadio untuk kesempatannya juga tentunya buat @the_commonpeople @ardy_siji @alek.kowalski @rendra86 wan alehandro @aleantipony @oomleo dan semua orang yang saking banyaknya susah buat diabsen, maacih! Kali pertama buat gw mengikuti semua keseruan dan keriaan #soundrenaline2018 dan #acampsoundrenaline2018 berjumpa dengan banyak teman antar kota antar provinsi, lintas generasi, berjejaring, bicara banyak hal, nonton banyak sekali band dan olahraga naik turun bukit tebing batu gwk, tidur di tenda super nyaman dan parti super seru diakhiri ceramah kesenian dari @erwindupranata. Sungguh pengalaman festival yang masuk dalam laci memori seumur hidup. Next keriaan, super super super please! 🖤 Ini sedikit foto yang tersimpan di hape. Foto terakhir udah ga bisa di tag, mention aja kali ya @jinpanji piss love dan salam olahraga! ✌🏻 #hidupadalahkonser #catatansiboit #banyaktemanbanyakrejeki #musikmemangmenyatukansegalanya

A post shared by Iit Boit (@boit3) on

Acamp – Soundrenaline 2018

Mati Sebelum Mati – Brotherwolf Sistermoon

Dua kecapi, gembyung atau rebana, goong tiup, celempung ditambah vokal bukanlah pilihan yang biasa untuk musik folk tapi itu adalah jalan musik yang dipilih dan ditempuh oleh Brotherwolf Sistermoon.

Terbentuk secara insidental karena keinginan untuk kembali membuat percobaan menggali tradisi dalam memainkan musik, Okid yang juga merupakan vokalis Gugat sekaligus pentolan Karinding Attack mengajak Hendra yang juga tergabung dalam Karinding Attack, Alice, Ajeng, Tio, Zalu dan kemudian menyusul Gan-gan. Dua nama terakhir adalah personil band Forgotten.

Lucunya, saat awal terbentuk pada Agustus 2017, mereka langsung didapuk untuk mengisi acara di pembukaan sebuah tempat wisata di Bandung.

“Jangankan album, lagu aja belum ada” seru Alice sambil tertawa.

“Yang bodor (lucu) juga Brotherwolf Sistermoon itu namanya muncul gara-gara saya sedang mendengarkan lagu The Cult. Jadi kita ini grup musik tradisi yang namanya ke-inggris-inggrisan” tambah Alice dengan tawa yang makin lebar.

Cukup tentang nama, cita-cita Brotherwolf Sistermoon adalah mencoba mengingatkan manusia untuk
kembali bersatu dengan semesta. Pun dengan single Mati Sebelum Mati yang berangkat dari kegelisahan melihat manusia yang makin tidak menghargai satu sama lain dan pergeseran gaya hidup yang makin jauh dari nilai luhur warisan budaya.

“Tapi kami tidak ingin menggurui, makanya kami melakukan ini lewat musik agar bisa dengan mudah masuk dan didengar orang. Bersyukur saya berjumpa dengan teman-teman yang satu visi dan juga ingin mengeksplorasi hal yang sama”

“Brotherwolf Sistermoon juga beruntung karena ternyata masing-masing personil dengan alat dan kemampuan masing-masing memang punya akar dalam seni tradisi. Ditambah Gangan yang punya kemampuan notasi musik, meski kita punya keterbatasan nada karena alat musik yang kita pilih, setidaknya nadanya benar.” Tutur Okid.

Menurut rencana, single “Mati Sebelum Mati” akan rilis bersama 5 lagu lain dalam bentuk kaset yang dirilis oleh 100.000 records dan album penuh dalam bentuk CD sebelum akhir tahun ini. (Boit/2018)

Link: Soundcloud

Mati Sebelum Mati

I. Sadarlah kau hai manusia
Kau hidup di alam kepalsuan
Arogansi menyesatkan
Terhanyut dalam keserakahan

II. Jiwa-jiwa tak tentu arah
Terbelenggu musuh yang nyata
Diri angkuh untuk bersujud
Terpuruk melarat dalam sekarat

Reff :
Leburlah badan menjadi nyawa
Leburlah nyawa menjadi rasa
Leburlah rasa menjadi cahaya
Lalu sirna
Tinggalah Hyang Agung abadi

Kembali ke II, Reff 2x

Mati sebelum mati
Matilah sebelum mati 2x

 

Tentang Brotherwolf Sistermoon

Brotherwolf Sistermoon adalah band yang berasal dari kota Bandung dengan personil Hendra Romadon/Herbal (celempung), Uun Ajeng Maulidari/Ajeng (kecapi), Dikky Mochamad Dzulkarnaen/Okid (goong tiup, karinding), Gangan Ginanjar/Gan-gan (kecapi, suling), Satio Wikuntoro/Tio (backing vocal), Rizalu Ramdhan/Zalu (gembyung), Lisna Listriana Riadini/alice (vocal). Terbentuk sejak 2017, mengawinkan musik folk dan tradisi, mereka tidak mau keterbatasan nada alat musik mereka jadi penghalang agar musik mereka bisa diterima dunia. Menurut rencana album penuh mereka akan rilis dalam waktu dekat.

 

Kontak:

Okid 081214905553 | okidgugat@gmail.com |

  1. bwolfsmoon

Review | Seringai, Seperti Api (2018)

Gue sebetulnya gak bisa jernih kalo ngomongin band satu ini. Karena secara personal, selain kedekatan pribadi, mereka adalah salah satu band (dari banyak yang gue kenal) yang tumbuh bareng dan membentuk banyak hal yang gue kerjain di Omu. Gue coba sebisanya untuk objektif, tapi gak janji. 🤞🏻 Album Seringai Seperti Api ini kalau analoginya masakan, dia punya rasa yang pas. Ngga kurang, ngga lebih. Seringai yang jalurnya tetap pada apa yang gue lihat di keseharian mereka. Keras, (ya namanya juga musik metal) sekaligus juga benar-benar tahu caranya menikmati apa yang mereka kerjakan. Curhat dan bisa jadi marah pada banyak hal tapi gak pake bahasa dan cara yang katro. Pujian ini juga boleh dilempar ke penulis liriknya Seringai, sebagai salah seorang penulis lirik berbahasa Indonesia terbaik di skena ini. Selain itu, yang gue suka dari mereka adalah kepercayaan mereka pada proses dan memikirkan banyak detail yang membuat hasil akhir dari apa yang mereka kerjakan bisa diterima banyak orang, terutama penggemarnya (cung!). Mungkin sama dengan kalau ditanya rasa makanan, yang terkadang orang bilang cuma ada dua kategori, enak dan enak banget. Buat gue, album ini masuk kategori enak banget. Btw ini bukan iklan. Album ini juga gak gue dapat dengan gratis. Gue beli di omu dan baru bisa dengerin penuh seharian ini. Gue adalah penggemar yang beruntung karena bisa terlibat distribusi album ini untuk sampai ke tangan sesama penggemar di seluruh penjuru Indonesia. Kudos, Seringai! 🤘🏻 #sepertiapi #serigalamilitia #seringai #jajandiomu P.S. Sebagai adik, gue cuma agak cemas apakah abang-abang ini mampu membawakan satu album ini secara live, mengingat ehm.. umur.. ehm.. jangan lupa vitamin dan olah raga ya bang-abang.. 🤗

A post shared by Iit Boit (@boit3) on

Review | Searching

Searching (2018), Sutradara: Aneesh Chaganty. Beberapa hari lalu liat postingan @aparatmati di story-nya dia yang bilang kalo film ini plot, cerita dan timelinenya bagus. Gw langsung penasaran. Setelah minggu lalu jadinya nonton the meg si hiu raksasa pemakan hiu raksasa (yawloooo) karena film ini ga ada di bioskop dekat tempat kita ada urusan, akhirnya semalam jadi nonton beramai-ramai setelah tutup toko. Untuk cerita cukup klasik, kalo suka poirot atau serial detektif atau suka nonton law and order pasti pernah menemukan cerita seperti ini. Ibu yang sudah meninggal. Anak remaja kesepian tiba-tiba hilang, ayah yang panik, twist cerita menjelang akhir film yang bikin komentar oooh ini orangnyaaaa, yaaaa cukup standar. Yang menarik adalah semua disajikan lewat layar. Layar komputer, handphone, cctv, televisi, semua jadi realita yang sangat dekat dengan kita sehari-hari di jaman sekarang. Bagaimana kamu merasa cukup tahu kepribadian dan perilaku orang terdekat lewat sosmed. Brengseknya netizen dan people’s journalism, fananya follower dan betapa mudah kamu jadi orang lain di internet. Asumsi-asumsi via text yang dibaca di applikasi pesan pribadi. Lapisan demi lapisan yang mengungkap, ternyata orang terdekat kita bukanlah seperti yang kita kira. Timelinenya memang apik, realistik sekali dan relatable dengan banyak situasi kita (kita? Lo aja kali). Sekali lagi terutama untuk orang tua dan anak remaja (film ini ratenya 13+). Sempatkan nonton, mumpung masi ada di bioskop. Satu lagi, ngobrol, jangan selalu percaya apa yang ditampilkan orang di sosial media. #catatansiboit

A post shared by Iit Boit (@boit3) on

Tiana, Ketika Tiga Tahun

Jadi kemarin, ketika fitur tanya bertanya muncul di instagram, ada salah satu teman yang bertanya tentang resep kami menjadi orang tua yang rock n roll. Ketika saya bertanya tentang definisi rock n roll, ternyata salah satunya tentang bagaimana kami tidak malu dengan kelakuan Tiana yang “petakilan” di muka umum. Saya sebetulnya ingin tertawa mendengar pertanyaannya. Selain saya merasa bahwa cara saya dan partner saya #3 tidaklah sebegitu rock n roll-nya, malunya sebelah mana? Tiana tidak pernah mengganggu anak lain ketika dia tidak bisa diam. Dia juga tidak merugikan dan merusak properti orang. Dia anak yang aktif dengan energi dan juga rasa ingin tahu yang besar. Mungkin kesalahan terbesar kami adalah membuat dia percaya bahwa dunia itu tempat bermain yang sangat besar dan isinya adalah orang-orang yang dia bisa percaya.

Anak butuh rasa aman. Rasa percaya. Rasa bahwa dia bukanlah raja yang keinginannya selalu bisa dikabulkan tetapi manusia biasa yang butuh bantuan sesama. Bersama Bunga dan terutama Tiana, saya dan #3 kembali belajar tumbuh tanpa rasa curiga terhadap orang lain.

Read More

Merayakan Hidup

Teroris Jancuk!

View this post on Instagram

Dari sejak peristiwa bom bunuh diri terjadi, saya bolak-balik bilang ini rasanya tidak masuk akal. Ibu macam apa yang justru pada hari ibu internasional mengajak anak-anaknya bunuh diri dengan bom dan mencelakakan orang lain? Jawabannya ternyata: yang percaya bahwa dalam agama ada jalan singkat menuju surga. Teroris itu punya agama. Di sini, agama mereka, Islam. Islam yang sama dengan yang kita anut tapi dengan distorsi ajaran yang sudah begitu dalam dan jauh meruntuhkan islam yang rahmatan lil alamin, yang penuh kasih sayang. Siapa yang membuatnya begitu? Kita. Yang dengan mudah memaki orang lain. Dengan mudah menghakimi orang yang berbeda, yang dengan mudah mengkafirkan kaum yang berbeda. Yang membicarakan keburukan orang lain dan dengki pada keberhasilan. Yang tidak pernah protes dan kritis pada ajaran yang salah yang disebarkan oleh ustadz karena ya itu ustadz. Yang acuh dan abai pada susah orang lain karena itu urusan mereka yang penting bukan masalah kita. Yang selalu silau pada surga. Yang lupa bahwa selain mengikuti ajaran agama dan berhubungan dengan-Nya, ada hubungan dengan manusia dan alam yang harus dipelihara. Habluminallah, habluminannas, habluminalalam. Dengan mengatakan bahwa teroris tidak punya agama, sama saja dengan mengakui bahwa kita tidak punya masalah, mencuci tangan dari kesalahan kita sendiri. Bagaimana kita bisa tahu apa obatnya tanpa tahu penyakit apa yang kita derita? #catatansiboit #fakyuteroris #kaloideologiterorisdibiarkanyangmatikitajuga #sedihnyagakkelarkelar Foto pinjam pakai dari situs berita Kumparan.

A post shared by Iit Boit (@boit3) on

Page 1 of 4

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén