Entah dari mana memulai karena kalau ini adalah badai, nyaris tidak ada sudut bumi yang lolos dari amukannya.

Ini bulan Mei 2020. Pandemi Virus Corona yang punya nama resmi Covid 19 dimulai dengan letupan kecil di kota Wuhan pada akhir Desember 2019 lalu menyebar kemana-mana. Indonesia, kasus pertama muncul pada awal bulan Maret 2020. Lantas dimulailah seri lawakan politisi, youtuber, netizen dan lain sebagainya. Wabahnya, melaju dengan kekuatan penuh. Mengesampingkan ancaman penyakit lain macam dbd yang sebetulnya angka kasusnya juga tinggi saat Covid tiba di sini.

Efeknya, menjalar ke banyak hal, seperti kehadiran setan alas. Setannya, tidak terlihat, dongengnya selalu ada dan menghantui. Masker, hand sanitizer dan jaga jarak adalah senjata utama untuk menghambat kerasukan setan. Manusia, menatap satu sama lain dengan saling curiga. Takut kesurupan.

Hari ini, sudah menjelang lebaran. Tidak ada shalat tarawih. Tidak ada kumpul-kumpul di tempat ibadah. Nyaris tak ada yang namanya buka bersama. Yang introvert mungkin lega meneruskan gaya hidupnya. Yang extrovert dan social butterfly, cuma bisa berdoa dan berharap wabahnya cepat selesai.

Sekarang, saya tahu rasanya bangun tidur dengan rasa cemas. Bangun tidur untuk tahu kalau hari minggu rasanya sama dengan hari selasa. Hari selasa, rasanya sama saja dengan hari sabtu dan seterusnya. Karena sekolah anak-anak juga berhenti. Ceritanya, belajar dari rumah. Kenyataannya, sebagai orang tua, saya tidak becus mengajak si bungsu belajar secara formal.

Tidak ada seorang pun yang siap dengan bentuk baru bencana ini. Manusia terkungkung oleh ruang-ruang yang harus dibuat sendiri. Rapuh.

Mengakhiri ocehan ini dengan doa, semoga bisa melewati ini semua, tanpa banyak luka.