Kamu tau bagian apa yang paling susah kalau mau menulis paska pertunjukan yang bagus? Meredakan euforia. 

Dada masih rasa sesak oleh gembira. Hati masih penuh oleh rasa syukur. Bebunyian masih terngiang di kepala. Bangun pagi tadi rasanya masih seperti mimpi. 

Hari ini, paska pertunjukan semalam, gw ke Jakarta untuk menonton Bon Iver. Berharap kembali memijak bumi mendengar Skinny Love dan Holocene. Menonton band yang dikomentari Mas Rully dengan “Oh, Justin” ketika gw bilang bahwa gw ga bisa ikut ke Jatiwangi karena mau nonton band temennya Mas Rully, ampun mas. 

Bon Iver

Dan setelah gw nonton Bon Iver, mohon maaf, meski pertunjukannya bagus tapi ternyata pesonanya masih kalah oleh pertunjukan kecil yang hangat di Bale Handap Selasar Sunaryo, dengan jumlah penonton sekitar 180 orang yang gw yakin komposisinya 60% saling kenal satu sama lain dan harga tiket hanya 10% dari harga tiket standing festival nonton mas Justin Vernon tapi dengan nilai pengalaman yang 100% bahkan 200% lebih berharga. 

Mohon maaf sekali lagi, tapi Pertunjukan A Stone A dan Senyawa mengantar gw melintasi dimensi, mematahkan logika dan melewati batas ruang. 

A Stone A

Bagaimana bisa, tiga orang di hadapan penonton; yang satu, pegang garu plastik, satu orang lagi corat-coret kanvas dan satu lagi menghadap komputer seperti petugas kelurahan begitu sungguh-sungguh bilang pada penontonnya bahwa yang mereka lakukan adalah menciptakan komposisi bunyi yang dipanggil musik. Satu babak lainnya, malah teks stensil enny errow berhamburan dari sosok seperti hantu diiringi drum elektrik dan masih dengan petugas kelurahan yang sama. Menabrak semua pakem yang dipegang oleh seni musik, A Stone A menampilkan diri untuk dipuja atau dicaci. Mereka ini sekumpulan pemusik, pelawak, perupa atau bocah kekurangan mainan, semuanya diserahkan kendalinya secara penuh pada penonton. Banyak dari kami tertawa, berdecak kagum dan hormat pada A Stone A dan komposisinya malam itu. Pada konsep “Paralone”, pada Ewing, Akbar dan Amenkcoy yang membuka pertunjukan dengan sempurna untuk menyaksikan Senyawa. 

Rully Shabara dan Wukir Suryadi adalah Senyawa. Yang ketika gw mulai menulis di mobil dalam perjalanan pulang, lagunya minta diganti karena terlalu horor di kilometer 90 dalam perjalanan kami pulang menuju Bandung diiringi hujan yang berhenti ketika lagunya diganti. 

Malam itu di Bale Handap Rully dan Wukir menyihir penonton dengan suara-suara purba, seakan meminta waktu untuk berhenti sejenak, memusatkan seluruh pikiran dan jiwa raga utuk menyaksikan penampilan mereka. 

Senyawa

Gila. Bersebelahan dengan Mas Dholy sedari awal pertunjukan, kami berdua sama-sama mengalami peristiwa berdirinya seluruh bulu kuduk dan tidak berhenti hanya di satu lagu. Musik di tangan mereka, menembus batas dan waktu. Membawa kami melintasi dimensi. Tak berhenti berdecak kagum, berteriak demi meluapkan energi. Kalian ini, sesungguhnya terbuat dari apa? 

Senyawa merampok seluruh emosi, kata-kata dan mungkin sebagian dari jiwa. Menaruhnya di sebuah titik kecil di semesta. Membisikan mantra-mantra, “hidup adalah tanah kami. Mandiri adalah yang kami cari.” 

Dan Bon Iver mengembalikan gw ke bumi. Dengan selembar tiket hasil print sendiri, antrian yang semi manusiawi mengular melewati berbagai logo menyaksikan musik sebagai komoditi. 

Mengutip Farid Stevy ketika manggung bersama FSTVLST di #limunasxv dan mengatakan bahwa Limunas adalah peristiwa, malam itu di Bale Handap, gw harus menggenapi pernyataannya dengan “pertunjukan sesungguhnya hanya bisa jadi peristiwa, ketika batas antara pembuat, pengisi dan penikmat lebur menjadi satu” dan #senyawadasawarsapertama, juga termasuk peristiwa. 

Demi kewarasan jiwa raga, dalam perjalanan pulang ke rumah usai pertunjukan Senyawa, gw sempat menyematkan tanda di linimasa, 

 

Transendental. Pertunjukan @Senyawa1 di @Selasarsunaryo tadi bukan lagi naik kelas tapi naik dimensi. Beruntung sekali jadi bagian dari spesial show @limunas malam ini. 🌹

Selamat menjelajah tanah air, Senyawa. Sebarkan semangat kemandirian untuk dasawarsa ke depan. Terima kasih untuk singgah di Bandung. 

——

Foto warga

Warga yang sedang bekerja

Warga yang mau pulang

Warga bubaran Bon Iver, Bon Jovi dan Bon Cabe

Warga bubaran pertunjukan tiga dimensi

Tulisan ini dibuat sekaligus juga untuk mengucapkan terima kasih pada kerja tim yang solid. We made it again, gengs!

Hatur nuhun,

Senyawa dan tim. Mas Rully juga Mas Wukir yang kerjaannya bolakbalik nanya penontonnya seneng kan mbak? Bahagia, mas. Seneng aja mah kurang.

A Stone A. Amenkcoy, Akbar dan Ewing yang sungguh bikin bangga tapi kadang hayang seuri. We love you always.

Indra Ameng, Domi, Tesar dan seluruh keluarga Ruang Rupa, Gudskul, Ruru Radio, Ruru Shop dan kawan-kawan lainnya. 

Pak Naryo, Chabib, Rega dan Christine, Mbak Diah, Dea, Kang Cecep dan seluruh keluarga besar SSAS. 

Imal, Uwe, Aji, Tina dan Umut serta seluruh warga Omuniuum. 

Dholy, Kaler serta seluruh kerabat Yesnoshop. 

Adun dan tim sound Satu Titik Satu. 

Agam untuk produksi tata suara. 

Zamsam dan tim untuk produksi lighting. 

Mayang dan Hanny sebagai seksi sibuk untuk menggenapi kebutuhan-kebutuhan di venue. 

Baya untuk mengasuh uwak-uwak A Stone A. 

Insan yang mendadak jadi tim dokumentasi juga ROI Radio dan Rock Jurnal.

Ditto dan tim orange cliff serta Rifki @destroyxstairs untuk artworknya yang ciamik juga Mirza untuk layout poster. 

Dan terutama untuk semua kawan baik yang malam itu hadir di Selasar Sunaryo, kepada yang membeli tiket dan merchandise yang karenanya sampai saat ini kami masih bisa mandiri. 

 

Tepuk tangan untuk semuanya. 👏🏻

Closing statement yang sempurna

Ditulis oleh Boit sambil ngantuk, minggu subuh usai perjalanan dari Jakarta.