IFI Bandung, 1 Desember 2019

Foto Dok. Pribadi

Episode 1: The Panturas

Foto oleh: Irfan Nasution @visualbanal

Saya tersenyum kecil melihat The Panturas di panggung. Para penonton terutama di barisan depan sibuk merespon pertunjukan dengan asyik moshing dan bergantian mengangkat temannya untuk melakukan crowd surfing. Sisanya dibarisan belakang tampak menikmati pertunjukan. Teman-teman yang berjaga di FOH sibuk menjalankan tugasnya. Diluar auditorium, orang berlalu lalang. Ada yang baru datang, ada yang menukar tiket, membeli merchandise atau sibuk berbincang dengan kawan-kawannya. Beberapa, ada juga yang menolak masuk karena menunggu giliran band yang mereka suka.

Foto Dok. Pribadi

Merasa puas setelah melihat The Panturas dan para ABK bercengkerama, saya melangkahkan kaki keluar auditorium. Menyapa teman-teman yang datang, memastikan pasokan makanan dan minuman di backstage, lalu nongkrong didepan area auditorium. Tidak lama, teman baik saya yang baru datang menyapa. Saya sapa balik lalu bertanya, “kamu mau nonton gratis atau mau beli tiket?” Dia langsung menjawab, “beli tiket dong”. Saya mengajak mereka ke meja tiket untuk bertransaksi lalu kembali bercanda tawa dengan teman-teman lain.

Tak lama, The Panturas sudah menyelesaikan set panggung mereka. Salah satu kawan yang melangkah keluar auditorium menyempatkan diri untuk berkomentar, “gue baru pertama nih nonton Panturas. Asyik juga ya mereka.” Saya mengiyakan lalu pamit untuk ke backstage untuk mengucapkan terima kasih pada The Panturas. Semua tersenyum lebar. Kuya, drummer Panturas sempat bilang, “seneng teh, produksinya bagus pisan. Suka lighting sama soundnya. Enak banget main.”

Dalam hati, saya membatin, selamat datang ke Limunas. 🙂

Episode 2: Fstvlst

Foto oleh: Irfan Nasution @visualbanal

Setelah 15 tahun, pertama kalinya FSTVLST manggung di Bandung, di Limunas ke-15. Melangkahkan kaki ke dalam auditorium, seluruh area sudah berkabut. Penuh asap dari gunsmoke. Warna merah mendominasi. Panggung hampir tidak terlihat. Magis. Saya senang sekaligus tegang. Senang karena rencana kami, saya dan Mas Trie mengeksekusi ide untuk membuat opening mirip dengan peristiwa yang kami alami ketika nonton NIN di Bangkok bisa terwujud, tegang menunggu reaksi penonton. Melampiaskan energi eforia yang meletup-letup dengan teriakan semi makian, kami semua masih menunggu FSTVLST muncul di panggung yang sudah tidak terlihat wujudnya. Siluet orang tampak mulai mondar mandir di panggung. Penonton mulai bertepuk tangan.

Farid Stevy, front man FSTVLST masuk panggung, membawa buku lalu membuka dan membacanya. Semua penonton sudah kehilangan suara, fokus ke panggung termasuk saya. Masih senang sekaligus santai sampai tiba-tiba, kalimat-kalimat yang saya kenal baik karena itu adalah kalimat dari postingan instagram yang saya tulis meluncur ke udara. Suara Farid memenuhi setiap sudut ruang dengan kekuatan penuh. Saya mulai memaki, kali ini memaki betulan. Brengsek! Karena saya memang tidak pernah tahu kalau postingan itu akan dibacakan dan beberapa kawan terutama yang dibagian belakang mulai tersenyum lebar sambil menggoda saya. Farid masih membaca, saya merasa kalau mata saya mulai basah karena haru.

Sampai pada bagian “Kalo harga tiketnya acara macam ini ga bisa rendah karena memang pertaruhannya banyak dan tidak punya beking sponsor besar”, yang disambut dengan tepuk tangan penonton, dilanjut dengan “salah siapa? Ya salah Boit dan Jowoedan sendiri bikin Limunas, tepuk tangan untuk Limunas!” pada bagian itu, saat ada teriakan dan tepuk tangan yang jadinya ditujukan pada kami, saya sudah mencari Mas Trie untuk mencari tempat perlindungan yang menurut tulisan kawan saya adalah pelukan luapan kelegaan. Padahal, saya mencari tempat untuk menumpahkan air mata yang sudah tidak tertahan karena haru yang membuncah.

Foto Dok. Pribadi

Untung tak lama FSTVLST sudah memulai setnya dengan lagu pertama Hujan Mata Pisau. Seluruh perhatian penonton sudah tertuju lagi ke panggung, sibuk stage dive, crowd surf, sibuk menyanyi bersama, sibuk menikmati setiap peristiwa yang terjadi di panggung. Tangisnya reda, emosinya belum. Saya lalu melangkah ke backstage mencari minum lalu tiba-tiba punya pikiran “ah, whatever”. Menyimpan tas di meja monitor, naik ke panggung dan stage dive. Selesai stage dive yang disambut dengan baik oleh penonton dan posisi kembali ke panggung, saya memeluk Mas Farid dan turun lagi.

Keluar backstage, rombongan The Flowers sudah datang. Ngobrol dengan Bang Dado dan yang lain, kemudian saya mencari tempat duduk dan sempat bengong sejenak sebelum kembali ke rutinitas Limunas, menikmati setiap hal dan kegiatan yang terjadi, memastikan kelancaran acara, stok es jeruk dan yang paling utama, menikmati pertunjukan.

FSTVLST benar-benar memuaskan dahaga penggemarnya malam itu. Tidak ada satupun yang tidak larut dalam pertunjukan mereka. Salut harus diucapkan pada tim audio, Agam dan Adun dan terutama lighting, Zamzam, prima! The best!

Foto Dok. Pribadi

Episode 3: The Flowers

Foto oleh: Irfan Nasution @visualbanal

Area luar auditorium sudah kembali ramai. Tugasnya kali ini, memutar video klip Roda-Roda Gila The Flowers yang diluncurkan khusus hari itu. Karena personil The Flowers meminta perwakilan dari tim Limunas untuk mengantar pemutaran, akhirnya saya menemani Nasrul yang tugasnya cuap-cuap. Selesai pemutaran, kembali ke backstage untuk memotong tumpeng yang belum ada menyentuh karena belum dipotong, akhirnya upacaranya adalah merayakan debut penampilan FSTVLST sementara tim The Flowers sedang bersiap untuk tampil. Saat Nasrul dan Bagus masih membacakan profil band, ternyata band rock n roll yang benar-benar rock n roll sampai ke tulang itu tidak mau menunggu. Set mereka sudah dimulai.

Saya, ikut larut dibarisan depan yang setia (yang saking setianya sampai ada beberapa orang yang beneran ga mau nonton band sebelum-sebelumnya) menunggu penampilan The Flowers. Memori mengalir kembali. Dulu, saya menonton mereka untuk pertama kalinya kala masih “bocah”. Jaga booth merchandise di salah satu pertunjukan mereka bareng Seringai di Bandung pada 2010. Sekarang, mereka main di panggung yang “khusus” untuk mereka. Ampun, girang! (dan segan!)

Foto Dok. Pribadi

Diantara penonton barisan depan, ada Mas Dod yang juga salah seorang penggemar setia The Flowers yang kemudian dipanggil oleh Njet untuk menyanyi bersama di lagu Nggak ada Matinya. Lucu juga melihat Mas Dod grogi. Haha.

Selesai set mereka yang setiap kali selesai diminta main lagi dan lagi sampai bikin rapat melingkar dipinggir panggung, akhirnya lagu terakhir benar-benar dimainkan dan ketika selesai, saya buru-buru menyalakan lampu auditorium. Selain malam sudah sangat larut, banyak teman-teman yang tidak tahu kalau basis The Flowers malam itu manggung dalam keadaan sesak nafas karena asma.

Usai The Flowers, tinggal ritual terakhir, foto bersama didepan panggung yang sedang dibereskan sambil menyanyikan mars Limunas yang merupakan pelesetan dari Garuda Pancasila, “Liga Musik Nasional, akulah pendukungmu..”

Epilog

Tahun 2014. Teman baik saya, Yossy, gitaris Melancholic Bitch khusus menelepon mengabarkan kalau FSTVLST baru rilis album hits kitsch dan secara halus meminta untuk memainkan FSTVLST di Bandung. Agam yang seringkali bertugas jadi home sound engineer untuk Limunas juga bolak-balik meminta saya untuk mendengarkan albumnya dan memanggungkan mereka di Limunas.

Tahun 2017. Soundstation di PPI, Bandung. Nonton Bottlesmoker lalu dikenalkan dengan Mas Farid yang sedang mengerjakan mural. Tahun yang sama, Juli, Limunas ke-11, usai Melancholic Bitch dan Jason Ranti, tidak hanya satu dua orang yang sudah meminta FSTVLST untuk main termasuk Dacong, si drummer yang punya tiga band.

2019. Ada banyak persimpangan dengan mas Farid dan setiap pertemuan selalu diakhiri dengan jadi ya, jadi ya.

Awal Oktober 2019. Selain sempat satu lingkaran dengan Mas Farid en de geng juga ketemu dengan Bang Dado yang abis manggung di Synchronize, sempat ngobrolin tentang kemungkinan The Flowers untuk main di Bandung. Tengah oktober, saya, Mas Dod dan Mas Trie memutuskan untuk membuat Limunas satu kali sebelum tutup tahun. Memutuskan si bungsu The Panturas untuk jadi pembuka, karena saya tahu mereka sedang padat jadwal yang sedikit merepotkan untuk menarik massa “pertunjukan khusus” macam Limunas, saya memutuskan memasukkan nama FSTVLST sebagai penengah. Janjian, dealing dan lain sebagainya, sampai ketemu tanggalnya, saya dan Mas Trie baru ingat setelahnya kalau kami sudah membeli tiket U2. Ya udah, jual tiketnya deh. Haha.

Sampai tulisan ini dibaca oleh kalian, Limunas masih menerima berbagai pujian dan review serta foto-foto yang super bagus. Banyak juga yang berterima kasih pada saya yang sejujurnya membuat rikuh karena Limunas tidak hanya dibuat oleh saya sendiri tapi oleh semua orang yang hadir malam itu. Oleh doa dan semangat baik, oleh energi yang  tulus yang dibagi bersama.

Jadi, saya yang justru harus berterima kasih. Untuk semua yang mau membagi waktu, karya dan materi. Untuk tim limunas juga tim produksi dari masing-masing band yang telah bekerja sama dengan baik. Untuk semua penonton. Untuk semua band yang tampil dengan total. Dengan sungguh-sungguh. Terima kasih untuk mau berkegiatan bersama. Kalian, luar biasa dan saya bangga berada di #Limunasxv bersama kalian.

Boit.
Ditulis sambil mikir kalau sebetulnya tulisan ini juga belum sepenuhnya mewakili keriaan yang terjadi malam itu.

 

Tim Limunas XV yang sungguh luar biasa. Foto dok. Pribadi