Boit's Blog

life is real

Tiana, Ketika Tiga Tahun

Jadi kemarin, ketika fitur tanya bertanya muncul di instagram, ada salah satu teman yang bertanya tentang resep kami menjadi orang tua yang rock n roll. Ketika saya bertanya tentang definisi rock n roll, ternyata salah satunya tentang bagaimana kami tidak malu dengan kelakuan Tiana yang “petakilan” di muka umum. Saya sebetulnya ingin tertawa mendengar pertanyaannya. Selain saya merasa bahwa cara saya dan partner saya #3 tidaklah sebegitu rock n roll-nya, malunya sebelah mana? Tiana tidak pernah mengganggu anak lain ketika dia tidak bisa diam. Dia juga tidak merugikan dan merusak properti orang. Dia anak yang aktif dengan energi dan juga rasa ingin tahu yang besar. Mungkin kesalahan terbesar kami adalah membuat dia percaya bahwa dunia itu tempat bermain yang sangat besar dan isinya adalah orang-orang yang dia bisa percaya.

Anak butuh rasa aman. Rasa percaya. Rasa bahwa dia bukanlah raja yang keinginannya selalu bisa dikabulkan tetapi manusia biasa yang butuh bantuan sesama. Bersama Bunga dan terutama Tiana, saya dan #3 kembali belajar tumbuh tanpa rasa curiga terhadap orang lain.Petakilan di mata orang lain adalah Tiana yang merasa bahwa setiap tempat itu ruang bermain yang dipenuhi oleh imajinasinya. Maka kadang dia bisa berbaring begitu saja, di mana saja. Maka dia ketika makan di resto atau di rumah teman, dia bisa mengeksplorasi ruang-ruang yang memancing rasa ingin tahunya. Dia bisa bermain dengan botol-botol sampo dan merasa kalau itu pangeran  dan putri yang sedang bercakap-cakap atau bahkan sekarang dia sedang merasa kalau setiap hari adalah hari ulang tahunnya. Saya ingat, ketika dia berumur dua tahun dan sudah bisa berjalan, dia membuntuti dokter yang hendak memeriksanya ke setiap sudut ruang periksa bahkan sampai ke ruang belakang praktek dokter.

Petakilan juga sifat natural anak kecil yang selalu ingin bermain tanpa melihat ruang dan waktu dan terkadang yang salah adalah orang-orang tua yang menghalangi anaknya bermain dengan membentak atau bahkan mencubitnya. Kotor! Jijik! Awas jatuh! Ih, kamu kok gak bisa diam! Bisa diganti dengan nanti selesai main bersih-bersih atau dek jangan disitu, pilih yang lain aja atau hati-hati ya! Terkadang melakukan kesalahan dan terjatuh adalah pengalaman yang paling baik untuk kemudian dia bisa tahu mana yang aman untuk dirinya. Biasanya salah satu dari kami menemani atau melihatnya bermain sendiri selama masih dalam jarak pandang dan tidak mengganggu orang lain. Hal yang membuat kami masih garuk-garuk kepala sembari tersenyum asem semi memelas meminta maaf cuma karena sifat Tiana yang reaktif dan mulut anak kecil yang bunyinya kadang di luar akal. Bagaimana tidak nyengir asem ketika masuk ke ruang tunggu dokter gigi yang mau memeriksa gigi kakaknya, dia menunjuk si dokter sambil bilang, “nenek-nenek”. Ampun!

Kami beruntung sampai saat ini Tiana bertemu dengan banyak teman dan orang baik yang mengakomodir rasa ingin tahunya. Mulai dari dokter-dokter yang mungkin karena sopan pada orang tua pasien atau karena mereka sudah punya cucu jadi malah tertawa dan menghujani Tiana dengan obrolan dan hadiah kecil macam balon dan boneka. Teman-teman besar dan kecil yang selalu mau direpotkan oleh dia. Orang-orang yang selalu siap tersenyum, ngobrol dan bahkan sampai penjaga tempat main anak yang berbagi cemilannya dengan Tiana.

Saya kasih tahu ya, kami ini bukan orang tua yang rock n roll. Kami sedang belajar jadi orang tua. Yang bisa memperlihatkan bahwa dunia, seburuk apapun kondisinya saat ini adalah tempat yang harus dihadapi bukan dengan rasa takut, curiga dan putus asa. Tidak dengan kacamata hitam dan putih tapi dengan banyak warna. Yang sedang berusaha bilang bahwa hidupnya nanti adalah hidupnya sendiri yang bisa jadi tidak ada ayah atau mama yang selalu bisa menolongnya melawan rasa bosan atau membantunya mengenakan sepatu.

Masih jauh. Masih sangat jauh.

Dan tentu saja tidak sempurna. Ada naik turunnya. Ketika misalnya Tiana tidak mau mengikuti apa yang kami minta. Menangis keras dan ngotot. Biasanya ayahnya yang mengalah dan membawanya berjalan-jalan sampai dia tenang dan bisa diajak bicara atau dulu dengan Bunga ketika masih kecil, kami mengurung diri bertiga dalam kamar sampai tangisnya reda dan bisa membicarakan hal yang membuatnya marah.

Satu hal yang pasti kenapa kami bisa terlihat santai adalah karena kami tahu bahwa menjadi orang tua bukanlah kewajiban tapi konsekuensi dari pilihan dan menjadi berkah. Mempunyai anak adalah keputusan bersama yang artinya menangani segala sesuatu yang berhubungan dengan mereka adalah kompromi dengan pasangan dan ekosistem pendukungnya. Makanya kami jarang mengeluh ribet atau repot mengurus anak, karena siapa yang minta mereka untuk dilahirkan?

Dan satu lagi, monkey see, monkey do. Terakhir kali ketika saya memaki dengan keras dan ditiru langsung saat itu juga oleh Tiana, saya tepok jidat. Lupa kalau lagi bareng anak kecil. Membiasakan mengucapkan terima kasih, maaf, mengganti kata perintah dengan minta tolong adalah hal-hal kecil yang bisa ditularkan. Dia benar-benar mengamati hal-hal yang kita lakukan.

Petakilannya Tiana adalah hal yang membuat kami benar-benar sadar bahwa anak memang punya sudut pandangnya sendiri. Yang menurut kita kotor, menurut dia tidak. Yang menurut kita jijik, menurut dia ternyata menyenangkan. Maka kadang kami juga membiarkannya bertelanjang kaki di tempat-tempat yang menurut kami aman atau membiarkannya berkotor-kotoran karena toh kotoran bisa dicuci dan dibersihkan nanti setelah dia selesai dengan urusannya. Sampai dia tumbuh besar dan menjadi dewasa, dunia adalah tempat dia tumbuh bermain dan kami bertugas menemaninya, dengan senang hati. Ini adalah kami. Pasti setiap orang, orang tua dan keluarga punya cara sendiri untuk main dan tumbuh bersama anak. Terima kasih untuk Kania yang sudah bertanya dan membuat saya menulis sepanjang ini. Jadi ya, resep utamanya adalah belajarlah dari anak untuk menjadi orang tua. 🙂

Previous

Merayakan Hidup

Next

Review | Searching

2 Comments

  1. Keren banget, It.
    Saya sepakat dengan tulisan ini. Darinatas sampai tamat! Sepaham, kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén