View this post on Instagram

Dari sejak peristiwa bom bunuh diri terjadi, saya bolak-balik bilang ini rasanya tidak masuk akal. Ibu macam apa yang justru pada hari ibu internasional mengajak anak-anaknya bunuh diri dengan bom dan mencelakakan orang lain? Jawabannya ternyata: yang percaya bahwa dalam agama ada jalan singkat menuju surga. Teroris itu punya agama. Di sini, agama mereka, Islam. Islam yang sama dengan yang kita anut tapi dengan distorsi ajaran yang sudah begitu dalam dan jauh meruntuhkan islam yang rahmatan lil alamin, yang penuh kasih sayang. Siapa yang membuatnya begitu? Kita. Yang dengan mudah memaki orang lain. Dengan mudah menghakimi orang yang berbeda, yang dengan mudah mengkafirkan kaum yang berbeda. Yang membicarakan keburukan orang lain dan dengki pada keberhasilan. Yang tidak pernah protes dan kritis pada ajaran yang salah yang disebarkan oleh ustadz karena ya itu ustadz. Yang acuh dan abai pada susah orang lain karena itu urusan mereka yang penting bukan masalah kita. Yang selalu silau pada surga. Yang lupa bahwa selain mengikuti ajaran agama dan berhubungan dengan-Nya, ada hubungan dengan manusia dan alam yang harus dipelihara. Habluminallah, habluminannas, habluminalalam. Dengan mengatakan bahwa teroris tidak punya agama, sama saja dengan mengakui bahwa kita tidak punya masalah, mencuci tangan dari kesalahan kita sendiri. Bagaimana kita bisa tahu apa obatnya tanpa tahu penyakit apa yang kita derita? #catatansiboit #fakyuteroris #kaloideologiterorisdibiarkanyangmatikitajuga #sedihnyagakkelarkelar Foto pinjam pakai dari situs berita Kumparan.

A post shared by Iit Boit (@boit3) on