Tulisan ini dibuat untuk zine Pengantar Pameran fotografi Nasrul Akbar, “Latar Belakang”.

Mencari Nasrul

Buat saya, ada dua tipe orang di dunia ini. Orang yang berbakat dan orang yang harus bekerja keras untuk mewujudkan sesuatu karena tidak punya bakat. Dari kedua tipe tersebut, menurut pengalaman saya sampai umur saya yang semoga masih bisa disebut muda ini, biasanya yang lebih sukses adalah orang yang bekerja keras karena tidak punya bakat. Buat saya, Nasrul adalah orang yang punya bakat di dunia fotografi. Dan itu membuat saya takut kalau dia terpeleset dengan apa yang dia punya. Karena dia berbakat, dia jadi punya banyak standar dan pagar yang dia ciptakan sendiri, yang membuatnya terkurung dan tidak pernah melakukan hal yang seharusnya sudah lama dia lakukan, membuat pameran tunggal fotografi.

Sedari dulu, Nasrul Akbar yang saya kenal adalah Nasrul yang sebetulnya serius dan punya banyak bakat tapi tidak pernah tahu apa yang mau dilakukan dengan bakatnya. Selain memotret, dia juga bisa menggambar, bersiasat lidah, menghibur orang, merajut, main band, menjadi kepala project pameran dan pertunjukan dan banyak hal lainnya. Hal-hal yang membuat orang awam seperti saya ingin berteriak keras ditelinganya, “Hey, bakat lu banyak setan, lu jangan lalim sama diri lu sendiri”. Semacam ungkapan standar dari orang yang iri karena kalau saya ingin sampai pada pencapaian kekaryaan seperti Nasrul dalam hal fotografi, artinya saya harus bekerja dan belajar super ekstra keras.

Selain dibuat iri, saya juga dibuat bingung Nasrul Akbar karena dia selalu merasa bahwa apa yang dia kerjakan dengan kameranya selalu tidak cukup. Dia adalah orang yang bisa mengambil foto dalam waktu yang singkat kemudian mengeditnya semalaman bahkan berhari-hari, demi hasil yang sempurna menurut standar yang ia ciptakan sendiri. Yang membuat banyak dari karya fotonya akhirnya hanya tersimpan dalam memori harddisk yang mencapai lebih dari 5 terabyte.

Padahal buat  saya (sebetulnya mungkin juga buat banyak orang), foto-foto Nasrul adalah hal yang saya paling suka dari seluruh hal yang dia kerjakan. Bahkan dari doodling series instagram-nya yang membuat dia dikenal orang banyak. Dulu, kami pertama kali bekerja sama ketika saya meminta dia untuk mendokumentasikan salah satu konser yang saya bantu sebagian penyelenggaraannya. Hasilnya sangat runut dan seluruh hal yang saya dan tim saya kerjakan di sana terdokumentasi dengan baik. Seakan-akan dia sudah tahu akan seperti apa momen yang akan terjadi sepanjang konsernya. Sesudah itu, kami juga banyak bekerja bersama untuk proyek lainnya dan membuat saya makin yakin kalau dia memang punya bakat untuk mengambil gambar.

Terlepas dari latar belakang pendidikan hukumnya yang tidak ada hubungannya dengan kesenian, sebetulnya Nasrul juga bekerja keras untuk mengasah bakatnya. Entah berapa banyak workshop fotografi yang dia ikuti. Bahkan banyak juga konsep esai foto yang dia kerjakan yang kemudian menjadi proyek yang terbengkalai karena dia tidak yakin pada apa yang dia kerjakan. membuat saya jadi punya asumsi, jangan-jangan dia itu tidak percaya pada dirinya sendiri.

Bakat punya, hasil ada, tapi tidak berani menampilkan apa yang sudah dihasilkan, masalah apa yang dipunyai oleh Nasrul? Mungkin karena kesal dan gemas akhirnya teman-teman dari OmniSpace akhirnya menciptakan kesempatan untuk dia melakukan pameran tunggal, dengan bidang yang sebetulnya adalah passion-nya dia yaitu fotografi. Diam-diam dalam hati, saya bersorak dan bergembira. Karena itu bisa mendorong Nasrul keluar dari zona aman dan pagar-pagar yang ada dikepalanya sendiri. Membuatnya benar-benar harus berjalan jauh keluar, mungkin mencari hal remeh temeh atau hal-hal yang mungkin terlewat begitu saja oleh mata orang lain menjadi sesuatu yang berwujud nyata dan ada pada gambar-gambar yang ditangkap olehnya.

Terlepas dari seperti apa hasilnya nanti, saya menikmati melihat Nasrul berproses dengan apa yang ingin dia tampilkan nanti pada pamerannya. Mulai dari melihatnya berkutat dengan konsep, mengambil stok foto, mengedit dan kemudian bersikeras mempertahankan konsep kekaryaannya, sampai diskusi-diskusi tentang bagaimana nanti dia menempatkan hasil karyanya di ruang galeri. Saya juga senang melihat bahwa ternyata banyak teman yang sayang kepada Nasrul dan berusaha membantu Nasrul dengan cara apapun. Mulai dari celaan,  usulan yang tidak penting, sampai bantuan yang memang benar-benar-benar dibutuhkan olehnya.

Saya berharap kalau ini adalah pencarian, ini adalah pencarian yang mewakili perjalanan Nasrul untuk mencari dirinya sendiri. Untuk menunjukan kalau dia bisa melompati pagar dan memperlihatkan kalau dia pecaya pada apa yang dia lakukan. Menegaskan bahwa dia tetap pada pilihannya menangkap gambar yang sejak dulu ia sukai tapi belum pernah benar-benar menemukan rumahnya. Menemukan bakatnya, menangkap sesuatu yang mungkin sepi dan liyan yang justru terkadang dibutuhkan untuk menjadi jiwa yang utuh dan penuh.

Kalaupun itu tidak tercapai, setidaknya Srul, kan ada juga hal yang lu bisa bilang sama yang lain, eh, gue udah pernah pameran tunggal!

 

 

luv, Boit

Ibu anak dua, penghuni Omu, berteman dengan Nasrul sejak 2009