Saya sangat menyukai tulisan Haruki Murakami dan kagum terhadap hal-hal yang dia tuliskan dengan bahasa yang mudah tapi detil dan deskriptif. Dari kemarin saya ingin menulis sebuah cerita pendek, semacam bahwa saya sudah membuat penghargaan atas karyanya dia. Mengikuti tradisi Murakami yang selalu memasukan lagu yang dia dengar, saya juga memasukan lagu dari penyanyi kesukaan saya, Manic Street Preachers.

Jam Sepuluh Malam

Saat itu pukul 21.41. Riana masih duduk dibelakang meja kasir. Sambil membereskan buku-buku dihadapannya, dia bersenandung pelan, “a design for a life..” itu adalah lagu kesukaan majikannya tapi karena lagu itu masuk ke dalam playlist yang selalu diputar di toko tempat dia bekerja, akhirnya dia juga menyukai lagu itu.

15 menit lagi tokonya tutup, dia mulai membereskan meja kerjanya ketika tiba-tiba dia mendengar langkah kaki di tangga. Riana mengeluh pelan, masih ada pelanggan yang datang berarti kemungkinan besar dia akan pulang terlambat. Sudah menjadi kebijakan di sana, meskipun pelanggan datang sepuluh menit sebelum toko tutup,dia harus menunggu pelanggan sampai selesai bertransaksi. Kalau pelanggannya jadi membeli, dia cukup senang, tapi kadang ada saja orang yang datang pada jam selarut itu lalu memutuskan untuk tidak membeli apa-apa.

Seorang pemuda bertubuh kurus, berkacamata masuk dan menghampiri salah satu rak buku tidak jauh dari meja tempat Riana. Sekilas dia melirik pemuda itu, memakai flanel, jeans biru dan sepatu keds, tak ada yang istimewa. Pemuda itu melihat-lihat rak sebentar sebelum akhirnya memilih buku haruki murakami, after dark.

Riana berusaha tidak berteriak untuk mencegah pemuda itu mengambil buku itu, masalahnya, dia sangat menginginkannya tapi dia belum gajian dan dia lupa menaruhnya di tempat yang tersembunyi. Dia berharap semoga pemuda itu tak jadi membelinya. Pemuda itu lalu duduk di sofa yang memang sengaja disediakan untuk orang yang mau membaca.

Riana berusaha memperlihatkan gestur bahwa dia sibuk beres-beres karena hendak menutup toko. keningnya berkerut melihat jam. 21.55, harusnya toko tutup 5 menit lagi.

“mbak, lagunya boleh diulang? yang sebelum ini, Rewind The Film itu dari manic street yang baru kan?” tiba-tiba pemuda itu berbicara pada Riana.

“Bisa mas, eh tapi sekali aja ya, tokonya udah mau tutup, udah hampir jam sepuluh”.

Pemuda itu hanya mengangguk lalu melanjutkan membaca buku yang dia pegang.

21.59 dan si pemuda tak ada tanda-tanda untuk beranjak. Riana menunggu dengan gelisah.

Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Layarnya menampilkan nama Indra. Riana kembali menarik nafas dan mengangkat teleponnya.

“Halo Ndra,” katanya.
“Ri, dimana? gue udah nungguin nih di tempat biasa, udah tutup kan? udah selesai beres-beres?” kata suara diseberang sana.
Riana dengan suara pelan membalas perkataan Indra “belum dra, ini masih ada pelanggan di toko, duh, tungguin ya, kayaknya masih agak lama”

Pemuda si pembaca buku diam-diam melirik Riana dan tersenyum kecil. Pemuda itu melirik jam ditangannya, 22.07. Dia masih menunggu temannya datang tapi lupa kalau toko kecil itu tutup jam sepuluh dan temannya belum menampakkan batang hidungnya. Dengan cuek, dia meneruskan kembali membaca.

Riana masih berbicara beberapa detik sebelum menutup telepon. dia melihat jam, 22.09. Dia meraih kunci gudang lalu berjalan menuju gudang di ruang belakang dan menutup pintu gudang lalu menguncinya. Dia kemudian kembali duduk di belakang meja kasir.

Tak lama terdengar langkah kaki di tangga. Riana menggaruk kepalanya karena bingung, kenapa masih ada lagi orang yang datang pada jam ini. Seorang perempuan manis, memakai kemeja putih, celana pendek, legging dan boots masuk dan melihat sekeliling toko lalu berjalan menghampiri pemuda yang duduk di sofa.

“Hey, gila! Udah lama?” katanya sambil duduk di sebelah si pemuda.
“ya lama, nungguin lu datang.” balas si pemuda.
“waaah, murakami, buat gue dong” kata si perempuan lagi.
“ngga’ mau, gue mau beli. bentar gue bayar” kata si pemuda sambil berdiri dan menghampiri meja Riana.

“Ini mbak, uangnya. maaf, bikin lama nunggu.” kata si Pemuda sambil memberikan uang sesuai dengan label harga yang tertera di halaman belakang buku.
“Iya mas, uang pas ya? makasih, eh tapi di bon dulu mas sebentar ya,” kata Riana.

Sambil menahan rasa kesal karena buku yang dia inginkan diambil oleh orang lain, Riana menuliskan harga, memasukkan buku ke dalam kantung plastik dan memberikannya pada si pemuda.

“Makasih ya mbak,” kata si pemuda sambil memberikan isyarat pada teman perempuannya untuk keluar dari ruangan tersebut.

Mereka lalu berjalan beriringan dan pelan-pelan Riana mendengar suara tawa dan suara langkah mereka menghilang.

Riana menghela nafas lalu membereskan beberapa barangnya untuk dimasukkan ke dalam tas. Mematikan komputer, mematikan lampu, menutup pintu dan mengunci pintu toko. Lalu dia menaruh kuncinya di tempat biasa untuk besok yang berjaga pagi membuka toko. Dia mematikan ruang belakang lalu berjalan menuju tangga. Sambil berjalan, dia menulis pesan pendek dihapenya.

“otw ndra, baru tutup, pelanggannya baru pulang”.

Dia mematikan lampu dibawah tangga. Sebelum mematikan lampu dan keadaan menjadi gelap gulita, dia sempat melihat jamnya, 22.24.

Riana lalu melangkah keluar ruko dan menutup gerbang kemudian menguncinya.

Sambil berjalan pelan dia bersenandung kembali, a design for life..

– fin –