Siang hari ini, di sela-sela rutinitas harian membaca linimasa di twitter, saya dikejutkan oleh linimasa @fajarjasmin yang bercerita tentang anaknya yang tiba-tiba tidak bisa masuk SD karena dia, ayahnya adalah seorang pengidap HIV. Padahal sebelumnya anaknya sudah di terima di SD tersebut. Tadinya, dengan niat baik, mereka memberitahu pihak sekolah kalau ayahnya punya penyakit HIV untuk mencegah anak-anak lain mem-bully atau mencelanya. Niat baiknya berakhir buruk. Penerimaannya di cabut. 🙁

Saya jadi ingat almarhum teman laki-laki saya, dulu sekitar tahun 2007-2008 dia sempat bekerja di Omuniuum juga. Tak ada yang luar biasa dari dia kecuali piercing dan tatonya yang memang banyak. Anaknya riang. Penuh semangat. Tak ada yang aneh. Setelah beberapa waktu, tiba-tiba dia mengajak saya dan #3 partner saya ngobrol serius.

Obrolannya ternyata dia mau cerita kalau dia positif HIV. Saya dan partner saya saat itu cuma berpandangan, trus pertanyaan kami berikutnya adalah memangnya kenapa kalo HIV?

Habis itu saya becandain dia, kamu masih mau kerja disini kan? Ngga ada niat ngajak ml kan? Saya tidak nanya kenapa dia bisa kena HIV, saya ga nanya juga hal-hal lainnya kecuali soal apakah pengobatan dia terus berjalan, gimana caranya men-support dan lainnya, gimana pengaruh ke kerjaan dan akankah ada hal-hal lain yang saya harus tau soal kondisi dia kalau sewaktu-waktu ada sesuatu yang terjadi.

Saya bilang sama dia, yang penting kamu sudah cerita dan jujur dan sesudah itu juga meminta dia agar memberitahu lingkungan terdekat kita biar cukup tau dan waspada.

Sesudah itu saya browsing soal HIV. Cari tau soal mitosnya, penularan, pengobatan, semuanya. Sesudah cukup tau, ya sudah, dijalankan saja.

Selama setahun itu, berdampingan dengan teman saya itu, bekerja bersama. Tidak ada yang luar biasa. Tidak ada yang sesuatu yang aneh terjadi. Dia cerita sama saya kalau kuncinya memang pengobatan dan menjaga kondisi tubuh.

Sekitar 2008 akhir, kalau tidak salah, dia keluar dari Omu. Bukan karena penyakitnya, tapi memang karena dia pindah ke Jakarta. Kami jarang bertemu. Pernah sekali dua kali bertemu di gigs, masih tetap riang. Cuma tambah kurus. Sampai tengah tahun ini, tiba-tiba ada SMS mengabarkan kalau dia tutup usia.

Terimakasih buat dia, saya jadi tahu soal HIV. Dia mengajarkan saya untuk berani dan mau mencari tahu soal HIV. Mengajarkan pada saya kalau semangat bisa memperpanjang usia. Mengajarkan bahwa kita yang sehat yang harus belajar agar tidak jadi sakit. Kita yang sehat yang seharusnya bisa menemani yang sakit.

Kenapa diskriminasi? Justru ketakutan yang akan membawa bencana. Ketakutan akan sesuatu yang tidak kita ketahui yang bisa membuat buta. Menurut berita di media massa, banyak kasus HIV terjadi pada ibu-ibu rumah tangga yang hanya setia pada satu pasangan karena pasangannya tidak tahu sama sekali gaya hidupnya beresiko. Banyak kasus yang terjadi pada remaja karena berbagi jarum suntik dan mereka tidak tahu resikonya. Banyak kasus terjadi karena tidak berhubungan seks memakai pengaman dan lainnya.

Banyak kasus tapi bukan karena satu sekolah, bukan karena satu pekerjaan, bukan karena ada satu ruangan dengan penderita HIV.

Lebih baik tau daripada tidak. Cegah sebelum terkena. Cegah sebelum ada orang dekat kita yang kena. Kalaupun ternyata terkena, mari obati. Mungkin tidak bisa sembuh, tapi setidaknya, berusaha.

Untuk cari tahu soal HIV, ada banyak sumber di internet, beberapa bisa cek:

http://www.aidsindonesia.or.id/

http://www.rumahcemara.org/

http://aids-ina.org/