Boit

Life is Real

Acamp – Soundrenaline 2018

View this post on Instagram

3 malam untuk (dikenang) selamanya. Terima kasih @ruangrupa @siasatpartikelir @rururadio untuk kesempatannya juga tentunya buat @the_commonpeople @ardy_siji @alek.kowalski @rendra86 wan alehandro @aleantipony @oomleo dan semua orang yang saking banyaknya susah buat diabsen, maacih! Kali pertama buat gw mengikuti semua keseruan dan keriaan #soundrenaline2018 dan #acampsoundrenaline2018 berjumpa dengan banyak teman antar kota antar provinsi, lintas generasi, berjejaring, bicara banyak hal, nonton banyak sekali band dan olahraga naik turun bukit tebing batu gwk, tidur di tenda super nyaman dan parti super seru diakhiri ceramah kesenian dari @erwindupranata. Sungguh pengalaman festival yang masuk dalam laci memori seumur hidup. Next keriaan, super super super please! 🖤 Ini sedikit foto yang tersimpan di hape. Foto terakhir udah ga bisa di tag, mention aja kali ya @jinpanji piss love dan salam olahraga! ✌🏻 #hidupadalahkonser #catatansiboit #banyaktemanbanyakrejeki #musikmemangmenyatukansegalanya

A post shared by Iit Boit (@boit3) on

Acamp – Soundrenaline 2018

Mati Sebelum Mati – Brotherwolf Sistermoon

Dua kecapi, gembyung atau rebana, goong tiup, celempung ditambah vokal bukanlah pilihan yang biasa untuk musik folk tapi itu adalah jalan musik yang dipilih dan ditempuh oleh Brotherwolf Sistermoon.

Terbentuk secara insidental karena keinginan untuk kembali membuat percobaan menggali tradisi dalam memainkan musik, Okid yang juga merupakan vokalis Gugat sekaligus pentolan Karinding Attack mengajak Hendra yang juga tergabung dalam Karinding Attack, Alice, Ajeng, Tio, Zalu dan kemudian menyusul Gan-gan. Dua nama terakhir adalah personil band Forgotten.

Lucunya, saat awal terbentuk pada Agustus 2017, mereka langsung didapuk untuk mengisi acara di pembukaan sebuah tempat wisata di Bandung.

“Jangankan album, lagu aja belum ada” seru Alice sambil tertawa.

“Yang bodor (lucu) juga Brotherwolf Sistermoon itu namanya muncul gara-gara saya sedang mendengarkan lagu The Cult. Jadi kita ini grup musik tradisi yang namanya ke-inggris-inggrisan” tambah Alice dengan tawa yang makin lebar.

Cukup tentang nama, cita-cita Brotherwolf Sistermoon adalah mencoba mengingatkan manusia untuk
kembali bersatu dengan semesta. Pun dengan single Mati Sebelum Mati yang berangkat dari kegelisahan melihat manusia yang makin tidak menghargai satu sama lain dan pergeseran gaya hidup yang makin jauh dari nilai luhur warisan budaya.

“Tapi kami tidak ingin menggurui, makanya kami melakukan ini lewat musik agar bisa dengan mudah masuk dan didengar orang. Bersyukur saya berjumpa dengan teman-teman yang satu visi dan juga ingin mengeksplorasi hal yang sama”

“Brotherwolf Sistermoon juga beruntung karena ternyata masing-masing personil dengan alat dan kemampuan masing-masing memang punya akar dalam seni tradisi. Ditambah Gangan yang punya kemampuan notasi musik, meski kita punya keterbatasan nada karena alat musik yang kita pilih, setidaknya nadanya benar.” Tutur Okid.

Menurut rencana, single “Mati Sebelum Mati” akan rilis bersama 5 lagu lain dalam bentuk kaset yang dirilis oleh 100.000 records dan album penuh dalam bentuk CD sebelum akhir tahun ini. (Boit/2018)

Link: Soundcloud

Mati Sebelum Mati

I. Sadarlah kau hai manusia
Kau hidup di alam kepalsuan
Arogansi menyesatkan
Terhanyut dalam keserakahan

II. Jiwa-jiwa tak tentu arah
Terbelenggu musuh yang nyata
Diri angkuh untuk bersujud
Terpuruk melarat dalam sekarat

Reff :
Leburlah badan menjadi nyawa
Leburlah nyawa menjadi rasa
Leburlah rasa menjadi cahaya
Lalu sirna
Tinggalah Hyang Agung abadi

Kembali ke II, Reff 2x

Mati sebelum mati
Matilah sebelum mati 2x

 

Tentang Brotherwolf Sistermoon

Brotherwolf Sistermoon adalah band yang berasal dari kota Bandung dengan personil Hendra Romadon/Herbal (celempung), Uun Ajeng Maulidari/Ajeng (kecapi), Dikky Mochamad Dzulkarnaen/Okid (goong tiup, karinding), Gangan Ginanjar/Gan-gan (kecapi, suling), Satio Wikuntoro/Tio (backing vocal), Rizalu Ramdhan/Zalu (gembyung), Lisna Listriana Riadini/alice (vocal). Terbentuk sejak 2017, mengawinkan musik folk dan tradisi, mereka tidak mau keterbatasan nada alat musik mereka jadi penghalang agar musik mereka bisa diterima dunia. Menurut rencana album penuh mereka akan rilis dalam waktu dekat.

 

Kontak:

Okid 081214905553 | okidgugat@gmail.com |

  1. bwolfsmoon

Review | Seringai, Seperti Api (2018)

Gue sebetulnya gak bisa jernih kalo ngomongin band satu ini. Karena secara personal, selain kedekatan pribadi, mereka adalah salah satu band (dari banyak yang gue kenal) yang tumbuh bareng dan membentuk banyak hal yang gue kerjain di Omu. Gue coba sebisanya untuk objektif, tapi gak janji. 🤞🏻 Album Seringai Seperti Api ini kalau analoginya masakan, dia punya rasa yang pas. Ngga kurang, ngga lebih. Seringai yang jalurnya tetap pada apa yang gue lihat di keseharian mereka. Keras, (ya namanya juga musik metal) sekaligus juga benar-benar tahu caranya menikmati apa yang mereka kerjakan. Curhat dan bisa jadi marah pada banyak hal tapi gak pake bahasa dan cara yang katro. Pujian ini juga boleh dilempar ke penulis liriknya Seringai, sebagai salah seorang penulis lirik berbahasa Indonesia terbaik di skena ini. Selain itu, yang gue suka dari mereka adalah kepercayaan mereka pada proses dan memikirkan banyak detail yang membuat hasil akhir dari apa yang mereka kerjakan bisa diterima banyak orang, terutama penggemarnya (cung!). Mungkin sama dengan kalau ditanya rasa makanan, yang terkadang orang bilang cuma ada dua kategori, enak dan enak banget. Buat gue, album ini masuk kategori enak banget. Btw ini bukan iklan. Album ini juga gak gue dapat dengan gratis. Gue beli di omu dan baru bisa dengerin penuh seharian ini. Gue adalah penggemar yang beruntung karena bisa terlibat distribusi album ini untuk sampai ke tangan sesama penggemar di seluruh penjuru Indonesia. Kudos, Seringai! 🤘🏻 #sepertiapi #serigalamilitia #seringai #jajandiomu P.S. Sebagai adik, gue cuma agak cemas apakah abang-abang ini mampu membawakan satu album ini secara live, mengingat ehm.. umur.. ehm.. jangan lupa vitamin dan olah raga ya bang-abang.. 🤗

A post shared by Iit Boit (@boit3) on

Review | Searching

Searching (2018), Sutradara: Aneesh Chaganty. Beberapa hari lalu liat postingan @aparatmati di story-nya dia yang bilang kalo film ini plot, cerita dan timelinenya bagus. Gw langsung penasaran. Setelah minggu lalu jadinya nonton the meg si hiu raksasa pemakan hiu raksasa (yawloooo) karena film ini ga ada di bioskop dekat tempat kita ada urusan, akhirnya semalam jadi nonton beramai-ramai setelah tutup toko. Untuk cerita cukup klasik, kalo suka poirot atau serial detektif atau suka nonton law and order pasti pernah menemukan cerita seperti ini. Ibu yang sudah meninggal. Anak remaja kesepian tiba-tiba hilang, ayah yang panik, twist cerita menjelang akhir film yang bikin komentar oooh ini orangnyaaaa, yaaaa cukup standar. Yang menarik adalah semua disajikan lewat layar. Layar komputer, handphone, cctv, televisi, semua jadi realita yang sangat dekat dengan kita sehari-hari di jaman sekarang. Bagaimana kamu merasa cukup tahu kepribadian dan perilaku orang terdekat lewat sosmed. Brengseknya netizen dan people’s journalism, fananya follower dan betapa mudah kamu jadi orang lain di internet. Asumsi-asumsi via text yang dibaca di applikasi pesan pribadi. Lapisan demi lapisan yang mengungkap, ternyata orang terdekat kita bukanlah seperti yang kita kira. Timelinenya memang apik, realistik sekali dan relatable dengan banyak situasi kita (kita? Lo aja kali). Sekali lagi terutama untuk orang tua dan anak remaja (film ini ratenya 13+). Sempatkan nonton, mumpung masi ada di bioskop. Satu lagi, ngobrol, jangan selalu percaya apa yang ditampilkan orang di sosial media. #catatansiboit

A post shared by Iit Boit (@boit3) on

Tiana, Ketika Tiga Tahun

Jadi kemarin, ketika fitur tanya bertanya muncul di instagram, ada salah satu teman yang bertanya tentang resep kami menjadi orang tua yang rock n roll. Ketika saya bertanya tentang definisi rock n roll, ternyata salah satunya tentang bagaimana kami tidak malu dengan kelakuan Tiana yang “petakilan” di muka umum. Saya sebetulnya ingin tertawa mendengar pertanyaannya. Selain saya merasa bahwa cara saya dan partner saya #3 tidaklah sebegitu rock n roll-nya, malunya sebelah mana? Tiana tidak pernah mengganggu anak lain ketika dia tidak bisa diam. Dia juga tidak merugikan dan merusak properti orang. Dia anak yang aktif dengan energi dan juga rasa ingin tahu yang besar. Mungkin kesalahan terbesar kami adalah membuat dia percaya bahwa dunia itu tempat bermain yang sangat besar dan isinya adalah orang-orang yang dia bisa percaya.

Anak butuh rasa aman. Rasa percaya. Rasa bahwa dia bukanlah raja yang keinginannya selalu bisa dikabulkan tetapi manusia biasa yang butuh bantuan sesama. Bersama Bunga dan terutama Tiana, saya dan #3 kembali belajar tumbuh tanpa rasa curiga terhadap orang lain.

Read More

Merayakan Hidup

Teroris Jancuk!

Dari sejak peristiwa bom bunuh diri terjadi, saya bolak-balik bilang ini rasanya tidak masuk akal. Ibu macam apa yang justru pada hari ibu internasional mengajak anak-anaknya bunuh diri dengan bom dan mencelakakan orang lain? Jawabannya ternyata: yang percaya bahwa dalam agama ada jalan singkat menuju surga. Teroris itu punya agama. Di sini, agama mereka, Islam. Islam yang sama dengan yang kita anut tapi dengan distorsi ajaran yang sudah begitu dalam dan jauh meruntuhkan islam yang rahmatan lil alamin, yang penuh kasih sayang. Siapa yang membuatnya begitu? Kita. Yang dengan mudah memaki orang lain. Dengan mudah menghakimi orang yang berbeda, yang dengan mudah mengkafirkan kaum yang berbeda. Yang membicarakan keburukan orang lain dan dengki pada keberhasilan. Yang tidak pernah protes dan kritis pada ajaran yang salah yang disebarkan oleh ustadz karena ya itu ustadz. Yang acuh dan abai pada susah orang lain karena itu urusan mereka yang penting bukan masalah kita. Yang selalu silau pada surga. Yang lupa bahwa selain mengikuti ajaran agama dan berhubungan dengan-Nya, ada hubungan dengan manusia dan alam yang harus dipelihara. Habluminallah, habluminannas, habluminalalam. Dengan mengatakan bahwa teroris tidak punya agama, sama saja dengan mengakui bahwa kita tidak punya masalah, mencuci tangan dari kesalahan kita sendiri. Bagaimana kita bisa tahu apa obatnya tanpa tahu penyakit apa yang kita derita? #catatansiboit #fakyuteroris #kaloideologiterorisdibiarkanyangmatikitajuga #sedihnyagakkelarkelar Foto pinjam pakai dari situs berita Kumparan.

A post shared by Iit Boit (@boit3) on

Lompatan Pikiran No. 1

Jadi, saya sering sekali menulis di notes handphone, ide-ide kecil atau apapun yang terlintas di kepala. Beberapa bisa panjang tapi lebih sering pendek-pendek, satu atau dua kalimat atau bahkan hanya sapaan yang terlintas dalam pikiran pada orang yang sedang jauh dari saya.

yang ditulis ini sebetulnya bukan lompatan pikiran nomer satu tapi di blog ini, tentu saja ini jadi nomer satu karena ini pertama kali saya menuliskannya.

musik itu tentang ingatan. Sama dengan wangi yang bisa mengingatkanmu pada sosok seseorang, musik bisa membawamu pulang pada satu masa. Mungkin hanya lirik yang sepenggal atau nada atau bahkan wajah-wajah yang kau temui pada sebuah pertunjukan.

Kadang, kita tdak ingin pulang, memang. Tapi coba saja jangan berdendang ketika lagu kesukaanmu berkumandang. Pasti gagal.

Mr. Sonjaya: Cukuplah

Abis diminta bantuan buat nulis pers rilis singlenya Mr. Sonjaya yang baru, Cukuplah..

Mr. Sonjaya: Cukuplah

Kelompok musik folk dari Bandung, Mr. Sonjaya merilis single sebagai bagian dari album baru yang menurut rencana akan rilis sebelum tahun 2018 ini berakhir.

Tembang tersebut diberi judul “Cukuplah”. Berkisah tentang kekuatan cinta abadi dari sosok ibu yang meski tak selalu hadir nyata dan ada, tapi selalu menjadi kekuatan yang selalu hadir dalam titah-titah lembut imajinasi kepala. Tentang kehilangan yang bisa terjadi pada siapa saja, kemunduran mental yang terjadi ketika merasa kalah.

Read More

Page 1 of 4

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén