Boit's Blog

life is real

Lompatan Pikiran #8364628

Entah dari mana memulai karena kalau ini adalah badai, nyaris tidak ada sudut bumi yang lolos dari amukannya.

Ini bulan Mei 2020. Pandemi Virus Corona yang punya nama resmi Covid 19 dimulai dengan letupan kecil di kota Wuhan pada akhir Desember 2019 lalu menyebar kemana-mana. Indonesia, kasus pertama muncul pada awal bulan Maret 2020. Lantas dimulailah seri lawakan politisi, youtuber, netizen dan lain sebagainya. Wabahnya, melaju dengan kekuatan penuh. Mengesampingkan ancaman penyakit lain macam dbd yang sebetulnya angka kasusnya juga tinggi saat Covid tiba di sini.

Efeknya, menjalar ke banyak hal, seperti kehadiran setan alas. Setannya, tidak terlihat, dongengnya selalu ada dan menghantui. Masker, hand sanitizer dan jaga jarak adalah senjata utama untuk menghambat kerasukan setan. Manusia, menatap satu sama lain dengan saling curiga. Takut kesurupan.

Hari ini, sudah menjelang lebaran. Tidak ada shalat tarawih. Tidak ada kumpul-kumpul di tempat ibadah. Nyaris tak ada yang namanya buka bersama. Yang introvert mungkin lega meneruskan gaya hidupnya. Yang extrovert dan social butterfly, cuma bisa berdoa dan berharap wabahnya cepat selesai.

Sekarang, saya tahu rasanya bangun tidur dengan rasa cemas. Bangun tidur untuk tahu kalau hari minggu rasanya sama dengan hari selasa. Hari selasa, rasanya sama saja dengan hari sabtu dan seterusnya. Karena sekolah anak-anak juga berhenti. Ceritanya, belajar dari rumah. Kenyataannya, sebagai orang tua, saya tidak becus mengajak si bungsu belajar secara formal.

Tidak ada seorang pun yang siap dengan bentuk baru bencana ini. Manusia terkungkung oleh ruang-ruang yang harus dibuat sendiri. Rapuh.

Mengakhiri ocehan ini dengan doa, semoga bisa melewati ini semua, tanpa banyak luka.

Catatan Kecil dari Akhir Pekan Bersama Senyawa, A Stone A dan Bon Iver

Kamu tau bagian apa yang paling susah kalau mau menulis paska pertunjukan yang bagus? Meredakan euforia. 

Dada masih rasa sesak oleh gembira. Hati masih penuh oleh rasa syukur. Bebunyian masih terngiang di kepala. Bangun pagi tadi rasanya masih seperti mimpi. 

Hari ini, paska pertunjukan semalam, gw ke Jakarta untuk menonton Bon Iver. Berharap kembali memijak bumi mendengar Skinny Love dan Holocene. Menonton band yang dikomentari Mas Rully dengan “Oh, Justin” ketika gw bilang bahwa gw ga bisa ikut ke Jatiwangi karena mau nonton band temennya Mas Rully, ampun mas. 

Bon Iver

Dan setelah gw nonton Bon Iver, mohon maaf, meski pertunjukannya bagus tapi ternyata pesonanya masih kalah oleh pertunjukan kecil yang hangat di Bale Handap Selasar Sunaryo, dengan jumlah penonton sekitar 180 orang yang gw yakin komposisinya 60% saling kenal satu sama lain dan harga tiket hanya 10% dari harga tiket standing festival nonton mas Justin Vernon tapi dengan nilai pengalaman yang 100% bahkan 200% lebih berharga. 

Read More

Lintasan Pikiran #84646162

Pulang ke kotamu..

Menuntaskan pembicaraan. Menghadiri pernikahan. Meramu cerita. Menjumpai kesedihan. Berpapasan dengan kegembiraan.

Terima kasih untuk selalu menyediakan alasan untuk merayakan hidup.

Sesungguhnya kita memang selalu butuh perlindungan, dari diri kita sendiri.

Klebengski. 30 Des 2019.

Suatu Malam di Kanal HQ

Main ke Jatinangor lagi akhirnya, karena diundang oleh Kongsi Meraki di markasnya mereka, Kanal HQ buat ngobrol bareng Musicomerch yang lagi launching webnya mereka.

Surprisingly fun. Selain tempatnya nggak neko-neko karena dibangun oleh kecintaan mereka sama musik dan juga lingkungan, nggak nyangka juga di Jatinangor ada tempat yang begitu hangat dan menyenangkan. Malah jadi ngiri. Haha.

Sebelum ngobrol ada band-band-an, seudah ngobrol juga masih ada band-band-an. Ngobrolnya? Kalo dari gw sih berbagi tentang omu dan tentunya berharap semoga semua maju biar si Omu makin banyak temennya. Semoga ada manfaatnya kehadiran si gw yang disebut teteh indie ama aa vokalis Geliat.

Semoga semua panjang umur!

Gass.

Sesungguhnya yang paling utama adalah ini tentang bagaimana dulu dua puluh tahun yang lalu, kami; gw dan beberapa teman dari jogja selalu bertukar tulisan dalam selembar kertas. Fast forward ke tahun 2019, kertas itu kembali datang dari kota yang sama, lewat teman yang berbeda.

Lompatan pikiran #537462

Memulai itu bisa jadi hal yang mudah. Merawat dan menjalankannya dengan konsisten adalah hal yang lain lagi.

Catatan Kecil dari #LimunasXV

IFI Bandung, 1 Desember 2019

Foto Dok. Pribadi

Episode 1: The Panturas

Foto oleh: Irfan Nasution @visualbanal

Saya tersenyum kecil melihat The Panturas di panggung. Para penonton terutama di barisan depan sibuk merespon pertunjukan dengan asyik moshing dan bergantian mengangkat temannya untuk melakukan crowd surfing. Sisanya dibarisan belakang tampak menikmati pertunjukan. Teman-teman yang berjaga di FOH sibuk menjalankan tugasnya. Diluar auditorium, orang berlalu lalang. Ada yang baru datang, ada yang menukar tiket, membeli merchandise atau sibuk berbincang dengan kawan-kawannya. Beberapa, ada juga yang menolak masuk karena menunggu giliran band yang mereka suka.

Foto Dok. Pribadi

Merasa puas setelah melihat The Panturas dan para ABK bercengkerama, saya melangkahkan kaki keluar auditorium. Menyapa teman-teman yang datang, memastikan pasokan makanan dan minuman di backstage, lalu nongkrong didepan area auditorium. Tidak lama, teman baik saya yang baru datang menyapa. Saya sapa balik lalu bertanya, “kamu mau nonton gratis atau mau beli tiket?” Dia langsung menjawab, “beli tiket dong”. Saya mengajak mereka ke meja tiket untuk bertransaksi lalu kembali bercanda tawa dengan teman-teman lain.

Tak lama, The Panturas sudah menyelesaikan set panggung mereka. Salah satu kawan yang melangkah keluar auditorium menyempatkan diri untuk berkomentar, “gue baru pertama nih nonton Panturas. Asyik juga ya mereka.” Saya mengiyakan lalu pamit untuk ke backstage untuk mengucapkan terima kasih pada The Panturas. Semua tersenyum lebar. Kuya, drummer Panturas sempat bilang, “seneng teh, produksinya bagus pisan. Suka lighting sama soundnya. Enak banget main.”

Dalam hati, saya membatin, selamat datang ke Limunas. 🙂

Read More

Sebelas Lagu untuk Pesta Gaduh Indonesia

Waktu Jaka meminta saya menulis untuk zine Estafet, saya tadinya mau menulis tentang rilisan fisik atau sesuatu yang berhubungan dengan Record Store Day Bandung tapi ternyata seperti tanggal RSD di Bandung yang terpaksa mundur karena ada Pemilu tanggal 17 April 2019, pikiran saya juga terbelah jadi banyak cabang karena pemilu. Kemanapun melangkah rasanya pemilu ada dimana-mana dan bahkan saat masa tenang, saya juga menghabiskan waktu di layar handphone, menonton film dokumenter Sexy Killers besutan Watchdog yang membuat berpikir, rakyat ini fungsinya apa selain angka statistik untuk melegalkan kekuasaan demi melindungi para pengusaha yang semana-mena merampas kehidupan rakyat?

Hari ini, sepulang dari Tempat Pemungutan Suara, setelah mencelup jari kelingking menjadi ungu, saya mengesampingkan pikiran tentang apakah tetangga di sebelah kotak pemilihan suara mendengar bunyi tusukan paku yang berkali-kali atau enggak, akhirnya saya memutuskan untuk menulis sebelas lagu yang saya bayangkan asyik sekali kalau dibawakan didepan para pejabat yang baru saja berkuasa atau mungkin buat pak Sandiaga Uno yang menurut berita yang saya baca mengalami cegukan nggak putus-putus setelah quick count yang menyatakan bahwa kubu lawannya memenangi pemilihan umum kali ini.

Berikut ini adalah lagu-lagunya.

1. Aspal Dukun, Melancholic Bitch.

Aspal sampai di kampung terujung

Sembari memanggul, punggungnya,

Jaringan waralaba, toko segala ada

Aspal sampai di kampung terujung

Karena pembangunan di Indonesia selalu identik dengan jalan raya yang membentang sampai ke desa-desa atau bahkan mungkin kemajuan bisa diukur dengan munculnya Indomaret atau Alfamart di banyak desa, lagu ini terngiang di telinga ketika satu saat saya naik ojek dan tukang ojek bercerita dengan antusias bahwa pembangunan jalan aspal adalah bukti bekerjanya pemerintah. Kebayang ga sih Hary Tanoe mengganti lagu mars  Perindo dengan “Jangan ditanya kemana dia pergi, bapak pergi ke dukun!”

Read More

Catatan Dari Mosh Pit

Acamp – Soundrenaline 2018

Page 1 of 5

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén